Pekan lalu, simpanan minyak mentah naik 5,8juta barel, level terkuat sejak April. Hal ini dapat dilihat dalam hal pantulan harga dari penurunan simpanan yang kuat dan memecahkan rekor pada pekan lalu. API mengindikasikan kenaikan sedang simpanan dan konsensus memperkirakan penurunan lebih dari 4 juta barel. Stok bensin turun 3,2 juta barel dan minyak hasil sulingan turun 370.000 barel. Pada saat yang sama, Departemen Energi mengumumkan bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah pertambangan di AS simpanan mencapai angka 11 juta barel per hari.
Namun, pekan lalu bukanlah menjadi yang terbaik untuk minyak, yang turun hampir 4% dalam lima sesi. Beberapa hari terakhir penuh dengan kejutan, contognya pengumuman penurunan terbesar cadangan minyak mentah dalam sejarah (-11,8 juta), perkiraan -6,8 juta). Berkurangnya stok minyak, yang dalam teorinya menjadi faktor yang dapat menghasilkan tekanan penurunan pada harga minyak, tampaknya tidak ditanggapi serius oleh para investor. Informasi mengenai Libya yang mengumumkan akan segera kembali pada produksi penuh, telah menenggelamkan publikasi EIA. Ekspor yang baru berarti menambah 700.000 barel ke pasar per harinya. Tidak banyak argumen yang dapat mengisyaratkan kenaikan harga minyak dalam waktu dekat. Investor berspekulasi bahwa friksi terkait perdagangan antara AS dan China dapat berimbas negatif pada permintaan global. Ancaman terbaru diberlakukannya bea cukai sebesar 10% untuk produk-produk China dengan nilai total USD 200 juta oleh pemerintah AS, hanya memperkuat kekhawatiran meningkatnya konflik antar dua kekuatan. Selain itu, isyarat bahwa AS akan mulai mendorong Rusia untuk meningkatkan level ekstraksi minyak berimbas negatif pada harga minyak. Amerika Serikat sendiri juga tidak lowong. EIA memprediksi bahwa produksi minyak akan naik ke hampir 12 juta per hari di 2019, hampir 1 juta lebih besar dari saat ini. Harga minyak juga tidak terbantu oleh fakta adanya niat AS untuk mencabut sanksi terhadap Iran yang semakin mungkin terjadi. Kembalinya Iran ke kelompok para produsen minyak dapat berimbas negatif pada harga.
Kini mari lihat gambaran teknikal Minyak mentah pada kerangka waktu H4. Pasar turun tipis di bawah 61% Fibo di level 68,07 dan mencapai level rendah lokal di 67,17, yang kini berperan sebagai support untuk harga. Karena kondisi pasar yang oversold, harga melambung sedikit, namun indikator momentum masih di bawah level 50, sehingga lonjakan yang lebih tinggi bahkan tidak menembus level resistance 69,24. Dalam jangka pendek, minyak akan berkonsolidasi secara horisontal di bawah angka genap 70 USD untuk sementara waktu.