USD/JPY: situasi saat hasil pertemuan Fed harus diabaikan

Pasangan Dolar/Yen yang telah diperdagangkan dalam kerangka figure ke-109 dalam lebih dari seminggu tanpa meninggalkan area harga ini. Setelah menurun di awal Januari ke titik terendah selama berbulan-bulan 104.48, pasangan ini mendapatkan posisinya kembali dan terjebak dalam titik stabil rentang yang lebar, menunggu pemicu baru. Namun, peristiwa baru-baru ini kontrovesial, sehingga mata uang Jepang tidak memiliki argumen yang cukup untuk pertumbuhannya. Selain itu, setelah pertemuan bulan Januari Bank of Japan, Yen hanya dapat mengandalkan latar belakang fundamental eksternal, sedangkan faktor internal bertindak hanya berlawanan terhadap mata uang tersebut.

Diingatkan kembali bahwa pada pertemuan pertama tahun ini, regulator Jepang menurunkan prakiraan untuk inflasi. Menurut Central Bank, inflasi inti dalam tahun fiskal berikutnya (yang mulai pada bulan April) akan tumbuh hanya sebesar 0,9%. Angka-angka ini jelas lebih sederhana dari prakiraan sebelumnya. Sebagai contoh, pada bulan Oktober, regulator memperkirakan inflasi meningkat sebesar 1,4%. Ini menunjukkan bahwa para trader tidak seharusnya mengharapkan pengetatan moneter di Jepang sampai akhir 2020. Dan meskipun pasar belum memiliki ilusi "hawkish" mengenai niat Haruhiko Kuroda untuk waktu yang lama, sekarang akhirnya kita bisa mengakhiri masalah ini. Selama lebih dari dua tahun, Bank of Japan dapat mengubah parameters kebijakan moneter, kecuali pada arah pelonggaran, yang juga merupakan rumor yang patut diwaspadai.

Fakta ini bagaimanapun telah melemahkan Yen di seluruh pasar, termasuk yang dipasangkan dengan Dolar. Namun, pertumbuhan USD/JPY cukup formal. Pasangan ini hanya "menukar" figure 108 untuk 109. Bulls Dolar tidak dapat bergerak lebih lanjut, karena pelunakan retorika Fed. Akibatnya, kita dapat mengamati konfrontasi dua mata uang, yang berada pada posisi lemah. Akhir cerita ini akan segera datang, kemungkinan pada akhir minggu ini.

Sifat bertentangan pada pasangan mata uang USD/JPY adalah baik Dolar maupun Yen dianggap sebagai aset yang aman (safe asset), jadi pengaruh latar belakang fundamental eksternal dapat diinterpretasikan oleh para trader secara berbeda, tergantung pada kombinasi dari banyak nuansa. Sebagai contoh, jika kita membahas tentang eskalasi konflik dagang AS-China, dalam kasus ini, mata uang AS diuntungkan. Perekonomian Jepang terlalu terikat dengan China. Contohnya, IMF menyebut konflik perdagangan global sebagai pelaku utama dalam melemahnya parameter utama negara kepulauan tersebut. Namun, Dolar, sebagai suatu aturan, 'meleset' dalam periode memburuknya hubungan antara Beijing dan Washington (terlepas dari fakta bahwa konflik ini mempengaruhi perekonomian AS).

Hari ini, situasi yang sangat unik muncul. Di satu sisi, China dan Amerika Serikat melanjutkan negosiasi perdagangan, dan di sisi lain, negosiasi ini akan berlawanan dengan latar belakang skandal yang meningkat di sekitar Huawei dan tuntutan pelanggaran sanksi anti Iran. Menurut sejumlah ahli, 'skandal mata-mata' (kita berbicara tentang pencurian properti intelektual) sengaja dinaikkan oleh pihak Amerika dalam konteks pembicaraan yang akan datang. Faktor ini diduga akan memperkuat posisi negosiasi Washington.

Namun, baik sisi Amerika maupun China menaruh harapan besar pada kunjungan delegasi RRC yang akan datang. Pertemuan akan diadakan pada tingkat 'tinggi', tuan rumah akan mencakup, antara lain, Menteri Keuangan Steven Mnuchin, perwakilan perdagangan Robert Lighthizer dan penasihat Presiden Amerika untuk perdagangan dan kebijak industri, Peter Navarro. Lalu, delegasi China harus menerima Donald Trump, meskipun hal ini akan tergantung pada hasil pembicaraan awal.

Hampir semua ahli yakin bahwa minggu ini (negosiasi dimulai pada hari Rabu) adalah tahap kunci pada proses negosiasi yang akan diadakan. Hasil kesepakatan perdagangan yang luas antara AS dan China ini bergantung pada hasilnya. Dan tampaknya prasyarat harus memperkuat sentimen risiko di pasar. Namun, sayangnya, ada sisi lain dari ini. Jadi, Amerika Serikat sebelumnya pada minggu ini mengirim permintaan ke Kanada untuk ekstradisi direktur keuangan Huawei, Meng Wanzhou. Sebagai tanggapan, Menteri Luar Negeri China mengungkapkan protes terhadap Amerika Serikat dan Kanada, menuntut agar mereka mengabaikan niat tersebut. Selain itu, Beijing habis-habisan mengkritik hukum yang baru-baru ini diadopsi untuk memperkuat kontak resmi dan ikatan militer antara Amerika Serikat dan Taiwan. Selain itu, pihak China tidak suka dengan situasi bahwa Amerika Serikat secara sepihak menjatuhkan sanksi terhadap Venezuela (Washington memblokir aset perusahaan minyak Venezuela, PDVSA, untuk $7 miliar).

Dengan kata lain, latar belakang berita jelas-jelas tidak kondusif bagi "dialog persahabatan". Negosiasi tidak akan mudah dan nyaris sulit untuk memprediksi hasilnya. Di sisi lain, Dolar berada di bawah tekanan tambahan dari sikap 'pigeon' Fed. Jika esok hari Jerome Powell mengumumkan penurunan dalam keadaan anjlok pada neraca Fed (atau setidaknya memberi petunjuk tentang hal tersebut), maka Greenback akan meningkat dari penurunannya di pasar, dan pasangan USD/JPY bukanlah pengecualian.

Maka, pasangan mata uang Dolar/Yen terjerat dalam benang kusut faktor fundamental yang terkadang saling berlawanan dalam konteks reaksi yang terduga para trader. Dalam situasi ini, kita bisa merekomendasikan untuk tidak tergesa dengan posisi jual (short position) pada pasangan USD/JPY, jika pertemuan Fed besok tidak berakhir membantu Dolar. Bagaimana pun, untuk trader pasangan ini, hasil negosiasi AS-China, yang akan kita dapatkan hasilnya hingga akhir minggu ini, akan menjadi kepentingan yang lebih besar.