Penurunan indeks-indeks saham dunia dan yield obligasi Pemerintah AS menyusul pernyataan Donald Trump di mana dirinya akan menaikkan tarif dari 10% menjadi 25% terhadap impor dari China senilai $200 miliar yang dimulai tanggal 10 Mei, disukai oleh bull XAU/USD. Kuotasi pasangan ini naik ke titik tertinggi tiga pekan, namun para penggemar logam mulia tidak terburu-buru bereaksi. Belum diketahui bagaimana perbincangan dagang antara Washington dan Beijing akan berakhir. Hasil apapun akan ambigu bagi emas.
Meski XAU/USD menguat di pasar valas, terjadi limpahan logam mulia dari barat ke timur di pasar aset fisik, yang lebih khas untuk kondisi pasar bearish. Commerzbank menyatakan stok dana khusus yang diperdagangkan di bursa turun di bawah titik penting secara psikologis yaitu 2.000 ton untuk pertama kalinya sejak Desember. Aliran dari ETF terjadi selama 9 dari 10 hari perdagangan terakhir. Di Asia, sebaliknya, aktivitas para pembeli tengah meningkat. The People's Bank of China menambah emas dan cadangan mata uang selama lima bulan berturut-turut. Pada bulan April, terjadi peningkatan sebanyak 480.000 ons dan mencapai level 61,1 juta ons. Impor emas dari India telah meningkat dari 73 T pada bulan Maret, naik menjadi 121 T pada bulan April. Pada akhir bulan kedua musim semi 2018, angka tersebut hanya sebesar 52,8 ton.
Sehubungan dengan eskalasi konflik dagang antara AS dan China, para investor secara aktif membeli obligasi dan mata uang safe haven berupa yen Jepang dan franc Swiss, sementara emas tidak akan segera meningkat karena kekhawatiran perang dagang akan memperlambat pertumbuhan PDB global. Perbedaan perkembangan ekonomi Amerika Serikat dan negara-negara di dunia lainnya menurut pola tahun lalu akan menguntungkan dolar AS, yang merupakan faktor bearish bagi XAU/USD.
Dinamika dolar AS dan emas
Di sisi lain, agenda-agenda dapat berkembang dengan skenario berbeda. Pelemahan permintaan global akan terus berkontribusi terhadap perlambatan inflasi AS. The Fed akan terpaksa menurunkan suku bunga Federal, yang akan mengguncang posisi indeks USD dan mendorong minat para investor terhadap emas. Skenario kedua cukup sensitif terhadap kebijakan moneter Federal Reserve, dan peningkatan kemungkinan ekspansi moneter pada 2019 dari 51% menjadi 40% mendukung bull XAU/USD. Menurut Wakil Kepala The Fed, Richard Clarida, pasar derivatif lebih cenderung pada suku bunga yang lebih rendah bukan karena kesehatan ekonomi AS, namun karena peningkatan risiko internasional.
Banyak investor tidak terburu-buru bereaksi, karena pada akhir pekan, 12 Mei, keadaan perang dagang kemungkinan tidak akan membaik. Jika China memutuskan untuk merespon kenaikan pajak impor Gedung Putih dengan hal yang sama, risk appetite akan terus memburuk.
Secara teknis, grafik harian emas terus menerapkan pola "Double bottom" dan "Wolfe Wave". Target pola terbaru terletak dekat $1.320 per ons (proyeksi dari poin 5 ke garis 1-4). Kondisi yang diperlukan untuk mencapainya adalah keluarnya kuotasi berjangka di atas channel trading menurun.