Nissay Asset Management percaya bahwa greenback akan mendukung permintaan obligasi Treasury AS investor Jepang yang berkelanjutan.
"Kami telah melihat support USD / JPY ketika pasangan ini jatuh ke bawah titik 108 pekan lalu," kata Toshiya Matsunami, seorang analis Nissay.
"Treasury AS akan tetap menjadi sorotan dana Jepang karena mereka terus mencari sumber laba di luar negeri terkait suku bunga yang rendah di dalam negeri. Mereka dapat menghindari pembelian utang di pasar negara berkembang cepat, mengingat kerentanannya terhadap risiko politik. Dolar diperkirakan akan tumbuh, didukung oleh data ekonomi AS yang kuat pada tahun 2020.", tambahnya.
Pakar memperkirakan bahwa pada akhir tahun, USD / JPY akan naik ke titik 112. Namun, tidak dikecualikan bahwa jika pasangan ini meningkat tajam, level 115 dapat dicapai.
"Ketidakpastian yang terkait dengan dua risiko utama yang telah memengaruhi sentimen investor selama dua tahun terakhir, sengketa perdagangan antara AS dan China dan Brexit, telah menurun, meredakan kekhawatiran investor terhadap kerusakan ekonomi global. Oleh karena itu, rentang trading USD/JPY tampaknya secara bertahap bergeser ke atas, ke titik 110-115 dari 105-110.", kata Kengo Suzuki, kepala strategi mata uang di Mizuho Securities.
Sementara itu, para ahli Sumitomo Mitsui Trust Bank meragukan potensi pertumbuhan USD / JPY lebih lanjut.
Menurut mereka, pasangan ini menjadi rentan terhadap penjualan setelah penandatanganan fase pertama kesepakatan dagang AS dan China.
"Perjanjian perdagangan dihargai. Pada saat yang sama, ketidakpastian tetap mengenai waktu dimulainya negosiasi tahap kedua, serta penerapan ketentuan-ketentuan tahap pertama. Jika negosiasi dagang antara Washington dan Beijing macet, maka USD / JPY dapat turun ke level 106-107.", ujarpara analis.