Fed akan meluncurkan pembelian obligasi tanpa batas: apakah Dolar akan diuntungkan?

Epidemi virus COVID-19, yang menyebar dengan cepat di seluruh dunia, mendikte aturannya kepada para pelaku pasar. Ekonomi terbesar di dunia sedang berusaha menyesuaikan diri dengan situasi saat ini. Demikian juga, Federal Reserve AS tidak berdiam diri dan membuat keputusan tak terduga untuk merangsang perekonomian Amerika.

Pada Senin malam, 23 Maret, Fed mengumumkan langkah-langkah baru yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk mendukung perekonomian nasional di tengah penyebaran pandemi virus Corona yang cepat. Komite Operasi Pasar Terbuka (FOMC) mengumumkan bahwa Fed akan mulai membeli obligasi pemerintah dalam jumlah yang tidak terbatas dan sekuritas yang didukung hipotek (mortgage-backed). Minggu ini, regulator diperkirakan akan mengakuisisi $375 miliar pada obligasi dan $250 miliar pada obligasi yang didukung hipotek.

Di bawah kondisi saat ini, Departemen Keuangan AS dan sekuritas yang didukung hipotek akan dibeli dalam jumlah yang diperlukan untuk mendukung kelancaran fungsi pasar dan transmisi efektif kebijakan moneter ke kondisi keuangan dan perekonomian yang lebih luas, jelas Fed. Selain itu, regulator akan membuat program baru yang bertujuan untuk membiayai pinjaman pelajar (student loan), pinjaman kartu kredit, serta memberikan pinjaman kepada usaha kecil dan besar.

Federal Reserve juga akan meluncurkan tiga fasilitas pinjaman baru, termasuk fasilitas pinjaman sekuritas beragun aset/asset-backed securities loan (TALF). Dua program lain akan memberikan dukungan untuk pasar pinjaman korporasi. Salah satunya melibatkan alokasi dana untuk pinjaman kepada perusahaan investasi besar dan menyediakan pembiayaan transisi untuk 4 tahun ke depan. Program kedua ditujukan untuk membeli obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan kelas atas dan dana investasi yang diperdagangkan di bursa. Berdasarkan prakiraan awal, masuknya uang tunai baru ke ekonomi AS akan melebihi $1 triliun.

Sebelumnya pada hari Minggu, Demokrat menentang RUU yang memberlakukan paket penyelamatan ekonomi bernilai lebih dari $1 triliun, bersikeras bahwa langkah-langkah seperti itu terlalu mahal. Namun, karena keadaan darurat yang disebabkan oleh epidemi COVID-19 skala besar, mereka harus menyetujui langkah-langkah stimulus baru.

Situasi ini telah memicu kehancuran tajam Greenback. USD telah mendapatkan pijakan di tengah jatuhnya saham sebelum Fed mengumumkan program pinjaman baru. Sementara itu, para ahli khawatir bahwa tindakan yang diambil oleh bank sentral utama, yang bertujuan untuk meningkatkan likuiditas di pasar dunia, akan berubah menjadi tidak efektif.

Adapun mata uang Eropa, telah maju terhadap mata uang Amerika. Pada hari Senin, Euro tumbuh sebesar 0,63% menjadi 1.0776. Namun, Greenback tetap menjadi aset safe haven yang paling diminati selama pandemi COVID-19. Dalam pasangan EUR/USD, Dolar tetap terus kuat. Selain itu, Greenback kemungkinan akan memperpanjang kekuatan di tengah insentif baru yang diberlakukan oleh regulator AS.

Analis percaya bahwa keputusan Fed akan langsung menguntungkan mata uang Amerika. Pembelian surat berharga (securities) tanpa batas akan membantu Dolar AS tetap bertahan. Setelah krisis akibat virus Corona mereda, mata uang Amerika dan perekonomian AS akan lebih mudah pulih dengan cepat dan kembali normal.