Boeing sudah mengalami tahun yang mengerikan pada tahun 2019, menderita kerugian $3,4 miliar. Pada tahun 2020, kondisinya jauh lebih buruk, karena karantina global tidak hanya menyebabkan kurangnya permintaan untuk penerbangan, tetapi juga mengurangi permintaan untuk pesawat baru.
Laporan mengerikan tentang pendapatan kuartal pertama Boeing tidak mengejutkan, dan sebagian besar eksekutif maskapai setuju bahwa akan membutuhkan waktu lama untuk mengembalikan permintaan untuk perjalanan udara. Dengan demikian, kerugian Boeing dapat berlanjut selama bertahun-tahun.
Pengiriman dari Boeing juga melemah lagi pada kuartal terakhir, perusahaan mengirimkan total 50 pesawat komersial, yang sebagian besar adalah 787 Dreamliners. Akibatnya, segmen pesawat komersial melaporkan kerugian $2,1 miliar, termasuk biaya perbaikan $336 juta untuk komponen berkualitas rendah dari pesawat 737 yang lebih tua.
Bisnis pertahanan Boeing juga kehilangan uang pada kuartal terakhir karena program tanker militer KC-46 yang sibuk. Satu-satunya sisi positif adalah sektor jasa, yang menghasilkan profit usaha $708 juta (meningkat 8% per tahun) dengan pendapatan $4,6 miliar. Hasil bersih dalam kerugian operasi adalah $1,7 miliar.
Investor khawatir tentang arus kas (cash flow) Boeing.
Di kuartal terakhir, Boeing kehilangan $4,7 miliar, lebih dari profit tahunannya pada tahun 2019, dan kemungkinan akan terus berlanjut sepanjang tahun 2020. Hal ini dapat menyebabkan Boeing meningkatkan pinjamannya, meskipun perusahaan mengakhiri kuartal pertama dengan utang sekitar $38,9 miliar, dan uang tunai dan investasi sekitar $15,5 miliar.
Manajemen Boeing mengakui bahwa akan membutuhkan waktu untuk kembali normal, terutama untuk pesawat berbadan lebar yang melayani penerbangan internasional jarak jauh. Jadi, pada tahun 2022, perusahaan akan mengurangi produksi 787 sebanyak 50% (dari 14 per bulan menjadi 7 per bulan) dan tahun depan, akan mengurangi produksi 777 dari 5 per bulan menjadi 3 per bulan. Semoga ini akan membantu menjaga perusahaan tetap bertahan dan tidak turun ke nol.
Sebelumnya, Boeing mengumumkan rencananya untuk memotong produksi 787 Dreamliner menjadi 10 per bulan pada awal 2021, tetapi bermaksud untuk meningkatkan produksi lagi pada tahun 2023.
Produksi 737 MAX juga akan lebih lambat dari yang telah direncanakan sebelumnya, sehingga pada akhir 2021, produksi akan berjumlah sekitar 31 per bulan. Produksi sebelumnya direncanakan menjadi 57 per bulan.
Boeing melakukan segalanya untuk memotong biaya, tetapi penurunan tajam dalam produksi akan memberi tekanan pada profitabilitas dan menyebabkan cash flow lebih rendah daripada $13,6 miliar yang diterima perusahaan di tahun 2018.
Maskapai penerbangan sangat mengurangi produksi dan memotong biaya, karena permintaan terus anjlok, terutama di sisi komersial divisi layanan Boeing.
Pada akhir tahun ini, Boeing kemungkinan memiliki setidaknya $35 miliar utang bersih, dan defisit pensiun sekitar $20 miliar. Manajemen mengharapkan untuk mendapatkan profit tahun depan, tetapi ini hanya karena dorongan satu kali pada banyak 737 MAX yang dirakit tahun lalu, yang saat ini dalam penyimpanan.
Boeing tahu bahwa mereka perlu memperkuat neraca keuangannya dengan melunasi utang tahun lalu, tetapi cash flow mungkin tetap lemah untuk periode yang lebih lama sekitar lima tahun atau lebih. Sampai saat itu, dividen dan share buyback perusahaan akan ditangguhkan.
Karena situasi saat ini, maskapai yang lebih lemah mungkin gagal, dan maskapai yang tumbuh pesat dengan menawarkan tarif rendah mungkin terpaksa melakukan pengurangan (cut back), yang dapat memengaruhi permintaan pesawat setelah tahun 2025.
Analisis teknikal menunjukkan bahwa tekanan masih berlanjut pada level harga $120 per saham.