Pound berada dalam bayangan pekan ini karena aktivitas dolar AS. Namun, pound terus memperjuangkan haknya dalam sistem keuangan global, namun ini tidak dihalangi bahkan oleh potensi bahaya terkait kemungkinan besar Brexit "keras".
Berdasarkan pengamatan para analis, situasi dengan keluarnya Inggris dari UE kembali memburuk. Pernyataan dari Boris Johnson berkontribusi pada ketegangan seputar negosiasi Brexit. Ia sekali lagi menekankan bahwa negaranya tidak membutuhkan perjanjian perdagangan dengan Uni Eropa. Pada waktu yang sama, permasalahan negosiasi antara London dan Brussels muncul terkait koordinasi mengenai poin-poin tertentu seperti akhir masa transisi dan interaksi ekonomi ke depan. Kedua belah pihak tidak dapat mencapai kompromi, dan ini berimbas negatif pada dinamika pound.
Dinamika pasangan GBP/USD saat ini sangat mirip pada dinamika "naik dan turun" klasik EUR/USD. Para pakar mengatakan bahwa pound hanya dapat dibedakan oleh status oversold tingginya, yang disebabkan oleh kekhawatiran mengenai potensi Brexit yang kacau. Saat ini, pasar lelah akan negosiasi Brexit yang seperti tanpa akhir, yang tidak menambah optimisme terhadap mata uang nasional.
Hari ini, GBP/USD diperdagangkan di dekat rentang 1.2901-1.2902. Menurut pengamatan analis, pound melakukan lonjakan kuat di tengah harapan yang berkobar untuk tercapainya kesepakatan, menembus level resistance kuat di 1.2850 dan naik ke level-level saat ini. Para pakar mengatakan bahwa ini bukanlah batasnya, pound kemungkinan akan bergerak ke level "bulat" 1.3000.
Selain itu, data makroekonomi yang telah direvisi memberikan dukungan besar bagi pound. Menurut para ekonom, indikator aktivitas bisnis terbaru Inggris telah direvisi naik. Namun, pertumbuhan ekonomi tidak menjadi bantuan yang besar pada mata uang tersebut. Dari pengamatan terkini, statistik makroekonomi yang positif tidak menjadi dorongan yang kuat untuk pertumbuhan pound.
Pekan lalu, pound menunjukkan kinerja bagus saat memimpin trading. Terhadap latar belakang ini, pasar mengharapkan kelanjutan aktivitasnya, namun ini tidak terjadi. Ketidakseimbangan performa pound diperburuk oleh isu seputar Brexit. Sebagai contoh, Inggris mengatakan bahwa poin utama meninggalkan UE telah disajika dalam rancangan perjanjian, tapi Brussels belum mengonfirmasi informasi ini. Selain itu, para pimpinan Eropa telah menyatakan keraguannya mengenai kemajuan dalam negosiasi. Michel Barnier, kepala negosiator UE, yang mencatat sejumlah perselisihan antara London dan Brussels, sepakat dengan sebagian pernyataan ini. Kemungkinan besar pelonggaran kebijakan moneter lebih lanjut oleh Bank of England memperburuk situasi. Para pakar yakin bahwa perubahan dari BoE kemungkinan dilakukan sebelum akhir tahun ini.
Bagaimanapun, pound mengharapkan kabar baik setelah negosiasi pada akhir masa transisi dan membangun hubungan perdagangan yang baru dengan UE. Jika skenario ini diterapkan, para ekonom yakin bahwa pound akan tumbuh dengan cepat. Namun, potensi kenaikannya dapat dihambat oleh kesulitan ekonomi saat ini dan defisit anggaran struktural. Faktor-faktor ini akan menjadi rintangan untuk pertumbuhan jangka panjang pound, meskipun kita tidak dapat mengesampingkan kemungkinan untuk memulai pertumbuhan begitu Brexit usai.
Sulit untuk para pakar memperkirakan prospek jangka menengah dan panjang pound, karena ada faktor ketidakpastian sehubungan dengan Brexit. Namun, mereka yakin bahwa jalur melengkung dalam proses keluarnya Inggris dari UE tidak akan membingungkan pound. Mereka percaya bahwa ini didukung oleh kepercayaan diri, dengan kemampuan untuk menolak isu-isu politik.