Pembelian emas oleh bank sentral mencapai rekor tertinggi pada kuartal sebelumnya, menurut laporan kuartalan World Gold Council. Namun, pemain besar masih anonim.
Menurut laporan WGC, yang dirilis Selasa, bank sentral membeli hampir 400 ton logam mulia pada kuartal ketiga tahun 2022, meningkat 300% dari tahun lalu.
Sejak awal 2022, bank sentral membeli 673 ton, lebih banyak dari total tahun-tahun sebelumnya sejak 1967, ketika dolar AS masih didukung oleh emas.
Pembeli emas terbesar yang diketahui adalah Turki, Uzbekistan, dan Qatar. Ada juga kelompok pembeli yang tidak diketahui, yang cukup besar. "Tingkat permintaan sektor resmi di Q3 adalah kombinasi dari pembelian yang dilaporkan stabil oleh bank sentral dan estimasi besar untuk pembelian yang tidak dilaporkan," isi laporan WGC.
Rusia dan China termasuk di antara negara-negara yang tidak secara teratur melaporkan pembelian emas mereka.
"Tidak semua lembaga resmi secara terbuka melaporkan kepemilikan emas mereka atau mungkin berjeda melakukannya. Perlu juga dicatat bahwa sementara Metals Focus menyarankan pembelian terjadi selama Q3, mungkin saja mereka telah memulainya di awal tahun," isi laporan tersebut.
Dari apa yang diketahui, bank-bank di negara berkembang memimpin pembelian emas resmi.
Dari laporan tersebut diketahui Turki membeli 31 ton emas pada Q3, meningkatkan cadangan emasnya menjadi 489 ton. Uzbekistan, pembeli logam mulia yang konsisten, meningkatkan cadangannya sebesar 26 ton pada kuartal ketiga. Selanjutnya, Bank Sentral Qatar menambahkan 15 ton emas pada bulan Juli, rekor akuisisi bulanan terbesar.
Penjual bersih emas terbesar pada kuartal ketiga 2022 adalah Kazakhstan, yang mengurangi cadangan emasnya sebesar 2 ton. "Tidak jarang bank sentral yang membeli emas dari sumber domestik beralih antara membeli dan menjual," ujar WGC.
Rekor pembelian logam mulia yang tinggi oleh bank sentral kontras dengan kinerja emas di pasar. Komoditas ini terus meluncur turun selama tujuh bulan berturut-turut akibat pengetatan moneter agresif oleh Federal Reserve dan kenaikan USD serta imbal hasil obligasi Treasury AS.
Kerugian tujuh bulan berturut-turut ini menjadi penurunan beruntun terbesar emas dalam lebih dari 50 tahun.
Selain itu, arus keluar yang kuat dari ETF yang didukung emas sangat memengaruhi harga. Banyak analis tidak memperkirakan tren berubah hingga Fed mengubah kebijakan moneternya.