Rangkuman Berita Pasar AS untuk 3 Maret 2026

Goldman Sachs: koreksi dibutuhkan sebelum S&P 500 bisa mengejar level tertinggi baru

Analis Goldman Sachs menilai kenaikan berkelanjutan untuk S&P 500 baru akan dimungkinkan setelah terjadi koreksi. Menurut bank tersebut, pergerakan saat ini tampak rapuh: guncangan harga minyak meningkatkan risiko inflasi dan mengaburkan prospek suku bunga, yang menekan selera risiko. Dengan latar belakang ini, pasar menunjukkan tanda-tanda sangat memanas, dan koreksi jangka pendek dapat berperan sebagai proses "unloading" sebelum kenaikan tahap berikutnya.

Namun, pendorong struktural tetap utuh. Dukungan terhadap indeks masih datang dari sektor energi dan teknologi — emiten minyak diuntungkan oleh kenaikan harga minyak mentah, sementara raksasa teknologi terus meraup manfaat dari permintaan yang stabil terhadap komputasi AI dan infrastruktur digital. Jika koreksi terjadi dengan volume yang moderat dan tanpa memburuknya data makro, S&P 500 seharusnya akan memperoleh basis yang lebih kuat untuk melanjutkan kenaikan. Ikuti tautan ini untuk detail lebih lanjut.

Memanasnya situasi di Timur Tengah mengangkat harga minyak dan emas ketika pasar menimbang dampak serangan AS terhadap Iran

Ketegangan geopolitik yang memanas setelah aksi AS terhadap Iran mendorong harga minyak dan emas naik tajam. Pasar saat ini memasukkan ke dalam harga risiko gangguan pasokan dan kemungkinan meluasnya konflik, yang meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven. Indeks saham AS sejauh ini masih bertahan relatif baik, menunjukkan bahwa investor tidak terburu-buru melakukan likuidasi posisi secara membabi buta.

Pertanyaan kunci adalah seberapa jauh eskalasi ini akan berjalan dan apa dampaknya terhadap pasar minyak global. Jika ketegangan berlanjut, sektor energi bisa kembali mendapatkan dorongan, dan ekspektasi inflasi berpotensi naik lagi, yang kemudian akan memengaruhi proyeksi suku bunga The Fed. Ikuti tautan untuk rincian lebih lanjut.

Februari menjadi bulan terlemah S&P 500: arus modal mengalir ke Eropa

Bulan Februari ternyata menjadi bulan terlemah bagi S&P 500 sejak Maret tahun lalu. Meningkatnya kekhawatiran atas perlambatan ekonomi AS dan berlanjutnya risiko geopolitik telah mendorong aliran modal ke Eropa dan pasar luar negeri lainnya. Para investor melakukan diversifikasi di tengah ketidakpastian mengenai langkah kebijakan The Fed berikutnya.

Pasar semakin banyak memperhitungkan skenario di mana The Fed mempertahankan kebijakan yang lebih ketat untuk jangka waktu lebih lama atau menunda pelonggaran. Hal ini menekan saham-saham pertumbuhan dan membuat indeks menjadi lebih sensitif terhadap rilis data makro. Arus keluar modal dari AS menandakan memudarnya keyakinan terhadap prospek jangka pendek pasar Amerika, meskipun minat struktural masih tetap ada. Ikuti tautan ini untuk detail lebih lanjut.

Bitcoin pulih: pasar mencari pijakan di tengah gejolak geopolitik

Terlepas dari eskalasi di Timur Tengah, Bitcoin berhasil pulih setelah terjadi likuidasi tajam dan justru menarik masuk modal baru. Aset kripto ini menunjukkan kemampuan untuk dengan cepat menutup kembali kerugian bahkan di tengah guncangan global, sehingga menghidupkan kembali perdebatan tentang perannya sebagai aset alternatif di masa ketidakstabilan.

Prospek jangka panjangnya masih belum pasti. Tanpa sinyal geopolitik yang lebih jelas dan stabilisasi risiko global, pergerakan harga Bitcoin berpotensi tetap bergejolak dan minat investor muncul secara episodik. Para investor terus menyeimbangkan potensi keuntungan spekulatif dari aset kripto dengan risiko regulasi dan risiko makro. Ikuti tautan ini untuk lebih lengkapnya.

Futures indeks AS merosot 1,4% saat pasar beralih ke mode turbulensi tinggi

Kontrak berjangka atas indeks AS anjlok seiring memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kontrak atas DJIA dan indeks acuan lainnya turun lebih dari 1,4%, mengindikasikan potensi pembukaan pasar yang negatif. Investor dengan cepat meninjau ulang profil risiko, mengingat potensi eskalasi lebih lanjut dan dampak ikutannya terhadap komoditas serta inflasi.

Tekanan semakin besar akibat ketidakpastian terkait kebijakan The Fed. Setiap tanda bahwa kenaikan harga minyak mendorong inflasi yang lebih cepat akan memperumit argumen untuk pemangkasan suku bunga dan meningkatkan volatilitas di pasar saham. Ikuti tautan untuk detail lebih lanjut.