Setelah tekanan politik yang jelas terhadap Trump, pernyataannya kemarin memicu penurunan tajam harga minyak. Setelah sempat menyentuh level $90 per barel, minyak mentah Brent terkoreksi menyusul lonjakan cepat yang terlihat pada pagi hari sebelumnya, yang sempat mendorong harga minyak hingga $119,50. Minyak mentah WTI juga turun tajam, ke level $81 per barel. Periode volatil ini merupakan hasil dari interaksi kompleks antara faktor-faktor geopolitik, ekspektasi investor, dan aksi nyata para pelaku kunci.
Pernyataan para perwakilan G7 mengenai kesiapan mereka untuk melakukan intervensi demi menstabilkan pasokan, meskipun dengan catatan penerapan yang bersifat segera, jelas memengaruhi sentimen pasar. Potensi penggunaan cadangan minyak strategis, yang sejauh ini masih bersifat hipotetis, mengirim sinyal kuat bahwa kekuatan global siap bertindak jika terjadi eskalasi lebih lanjut atau ancaman terhadap pasokan. Hal ini menciptakan semacam penyangga bagi konsumen dan produsen.
Inisiatif terbaru Trump untuk mengawal kapal tanker minyak dengan mengerahkan kapal perang AS, yang diumumkan saat penutupan efek Selat Hormuz, merupakan tindakan yang lebih langsung dan berisiko. Usaha untuk melindungi jalur laut penting bagi pasar minyak global ini bisa saja mengurangi ketegangan akibat gangguan pasokan, atau malah memicu konflik lebih lanjut. Keberhasilan inisiatif ini akan tergantung pada berbagai faktor, termasuk reaksi negara lain dan kemampuan nyata untuk mencegah serangan. Namun, perlu dicatat bahwa Trump pernah mengusulkan langkah serupa sebelumnya, hanya untuk kemudian membatalkannya beberapa hari setelah itu.
Kemarin, pemimpin Amerika tersebut mengungkapkan rencananya untuk mencabut sanksi terkait minyak. Dengan pengumuman ini, kemungkinan besar ia berusaha meraih dukungan dari pemilihnya, yang melihat pencabutan sanksi sebagai keuntungan ekonomi sekaligus sebagai cara untuk meredakan lonjakan harga yang drastis akibat tindakannya di Timur Tengah. Pencabutan sanksi terhadap sejumlah negara penghasil minyak tertentu pada akhirnya akan meningkatkan pasokan di pasar dunia. Hal ini dapat berpotensi menurunkan harga minyak per barel, yang tentunya akan disambut baik oleh konsumen dan pemilik kendaraan.
Bagaimanapun juga, penurunan harga minyak, meskipun bersifat sementara, dapat dilihat sebagai cerminan dari stabilisasi ekspektasi terkait pasokan. Namun, mengingat rapuhnya situasi di kawasan tersebut dan tidak jelasnya pernyataan para politisi, tren ini bisa terbukti tidak stabil. Pasar minyak tetap sangat sensitif terhadap peristiwa geopolitik, dan setiap pernyataan atau tindakan baru dapat memicu fluktuasi harga lebih lanjut.