Suasana pasar tetap sangat tidak stabil. Saat ini, para trader dengan saksama memantau langkah-langkah yang diambil pemerintah Amerika Serikat untuk menstabilkan harga energi, terutama di tengah menguatnya retorika dari Presiden Donald Trump dan kemunculan Pemimpin Tertinggi baru di Iran.
Belum lama ini, Amerika Serikat mengumumkan penerbitan izin sementara kedua untuk impor minyak Rusia. Arahan baru ini, yang berlaku untuk minyak mentah, memiliki cakupan yang lebih luas dibandingkan perintah sebelumnya yang hanya memungkinkan India untuk mendorong peningkatkan pembeliannya. Secara bersamaan, harga minyak mentah Brent mendekati level psikologis signifikan sebesar $100 per barel. Menurut Badan Energi Internasional (IEA), saat ini pasokan mengalami gangguan yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang terbesar dalam sejarah pasar minyak global.
Perkembangan ini terjadi dengan latar belakang ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang sudah pasti akan terus memberikan tekanan pada pasar. Risiko yang terkait dengan kemungkinan pengeboman infrastruktur energi yang lebih intens di kedua belah pihak, eskalasi retorika, dan adanya faktor-faktor ketidakpastian baru mendorong para investor untuk bersikap lebih berhati-hati. Volatilitas yang tinggi mencerminkan ketidakpastian pelaku pasar mengenai arah harga di masa depan dan keberlanjutan pasokan.
Menariknya, meskipun ada niat Amerika Serikat untuk mengendalikan harga, minyak Brent justru menunjukkan tren naik. Hal ini dapat mengindikasikan terbatasnya dampak langkah-langkah individual pemerintah terhadap pasar global, dengan peran dominan faktor-faktor fundamental seperti volume produksi, konsumsi, dan geopolitik. Izin sementara untuk membeli minyak Rusia mungkin merupakan sinyal positif, tetapi tidak dapat mengimbangi gangguan pasokan dalam skala besar yang dilaporkan oleh IEA.
Selain itu, pemerintahan Trump berencana mencabut undang-undang maritim berusia satu abad, yang mewajibkan penggunaan kapal berbendera AS untuk mengangkut barang antar pelabuhan di Amerika Serikat. Inisiatif yang bertujuan menurunkan biaya transportasi dan mendorong perdagangan domestik ini mendapat respons yang beragam. Para pendukung pencabutan berpendapat bahwa undang-undang tersebut sudah ketinggalan zaman dan membatasi persaingan, sehingga menyebabkan harga pengiriman di dalam negeri menjadi tinggi. Mereka meyakini bahwa penghapusan pembatasan ini akan menarik lebih banyak operator internasional, sehingga meringankan tekanan terhadap harga minyak dengan menurunkan biaya logistik dan pada akhirnya membuat barang lebih murah bagi konsumen akhir.
Namun, para penentang langkah ini menyuarakan kekhawatiran serius terhadap dampaknya bagi industri galangan kapal Amerika dan keamanan nasional. Mereka berpendapat bahwa pencabutan undang-undang yang sudah berumur satu abad tersebut bisa melemahkan posisi pelaku angkutan domestik, yang saat ini harus bersaing dengan perusahaan asing yang lebih besar dan lebih kuat secara ekonomi.
Dari sudut pandang teknikal, pembeli perlu menembus level resistance terdekat di $100,40. Hal ini akan membuka peluang untuk menargetkan $106,83, yang akan cukup sulit untuk terus ditembus ke atas. Target terjauh akan berada di sekitar $113,36. Jika terjadi penurunan harga minyak, pihak bearish akan berupaya mengambil alih kendali di $92,54. Jika mereka berhasil, breakout kisaran ini akan menjadi pukulan serius bagi posisi pihak bullish dan mendorong harga minyak turun ke level terendah $86,67 dengan potensi berlanjut hingga $81,38.