Pasangan mata uang GBP/USD melanjutkan pergerakan naik pada hari Rabu seiring meredanya ketegangan seputar Iran. Donald Trump sudah lebih dari seminggu membahas berakhirnya perang di Timur Tengah dan tercapainya sebuah kesepakatan, dan kemarin diketahui bahwa Teheran akhirnya memutuskan untuk menempuh jalur de-eskalasi, sebagaimana disampaikan oleh Presiden negara tersebut, Masoud Pezeshkian. Inilah yang menjadi alasan utama penguatan pasangan ini dalam dua hari terakhir.
Tentu saja, kita juga tidak boleh mengesampingkan inflasi yang meningkat di Jerman dan Uni Eropa, kemungkinan kenaikan inflasi di Inggris, potensi pengetatan kebijakan moneter oleh Bank of England dan ECB, serta pidato Jerome Powell pada hari Senin. Semua faktor ini juga dapat menopang euro dan pound. Namun, kecil kemungkinan ada yang menyangkal bahwa faktor geopolitik tetap menjadi faktor kunci di pasar valuta asing. Bahkan sekarang, ketika situasi di Timur Tengah membuka peluang nyata menuju perdamaian, geopolitik tetap menjadi faktor utama, meskipun pengaruhnya terhadap pasar mulai melemah. Saat ini, euro dan pound dapat menguat setiap hari karena para investor sudah berhenti melarikan diri ke dolar yang dianggap aman.
Lalu, apa paradoks dolar AS yang disebutkan dalam judul artikel? Selama satu setengah bulan terakhir, dolar mengabaikan semua sentimen negatif yang diarahkan kepadanya. Para pelaku pasar tidak menghiraukan data ekonomi suram dari seberang Atlantik, nada hawkish dari perwakilan Bank of England dan ECB, maupun faktor teknikal. Kini, situasinya bisa berbalik arah. Euro dan pound berpotensi menguat tanpa banyak terikat pada fundamental, data makroekonomi, atau analisis teknikal. Dolar bisa kehilangan satu-satunya penopangnya, sementara euro dan pound dapat "mengembangkan sayap".
Jika skenario ini terwujud, pound Inggris dapat dengan cepat dan relatif mudah kembali ke level tertinggi tahun ini, di kisaran 1,3600–1,3800. Faktanya, pound hanya perlu naik sekitar 300 pip lagi untuk mencapai kisaran tersebut. Tentu saja, ini akan membutuhkan waktu, tetapi misalnya, pekan ini laporan pengangguran dan pasar tenaga kerja akan dirilis di AS. Jika kembali menunjukkan angka yang "mengguncang", dolar mungkin melemah lebih tajam.
Perlu juga diingat bahwa pasar baru mulai memasukkan skenario de-eskalasi ke dalam harga. Sejauh ini belum ada pengumuman mengenai keberhasilan perundingan, belum ada kesepakatan, dan belum ada akhir perang. Setiap pengumuman semacam itu akan memicu pelemahan dolar AS dan kenaikan aset berisiko. Oleh karena itu, jika perang benar-benar berakhir, pasangan GBP/USD akan memiliki banyak peluang untuk kembali dengan cepat dan relatif mulus ke kisaran 1,36–1,38.
Kami masih berpendapat bahwa tren naik tahun 2022 dan 2025 belum berakhir. Tidak ada yang bisa memprediksi peristiwa di Timur Tengah pada bulan Maret, itu sebabnya kita melihat pergerakan yang tidak terduga. Dalam beberapa kasus, lonjakan tajam dolar merusak pola teknikal, tetapi untuk pound Inggris pada timeframe harian, semuanya kurang lebih masih tampak sama seperti sebulan yang lalu. Pada timeframe mingguan, hal ini bahkan lebih terlihat jelas. Ya, pasangan ini memang menunjukkan koreksi yang lebih dalam daripaa prediksi, tetapi tidak lebih dari itu.
Rata-rata volatilitas pasangan GBP/USD selama 5 hari perdagangan terakhir sebesar 99 pip. Untuk pasangan pound/dolar, nilai ini dianggap "rata-rata". Pada hari Kamis, 2 April, kami memperkirakan pergerakan dalam rentang yang dibatasi oleh 1.,3226 dan 1,3424. Channel atas regresi linier telah berbalik mengarah ke bawah, yang mengindikasikan perubahan tren. Indikator CCI telah dua kali masuk ke area oversold dan membentuk divergensi "bullish", yang sekali lagi memberi sinyal akan berakhirnya tren menurun. Namun, situasi geopolitik saat ini lebih penting daripada sinyal teknikal.
Level support terdekat:S1 – 1,3306
S2 – 1,3245
S3 – 1,3184
Level resistance terdekat:R1 – 1,3367
R2 – 1,3428
R3 – 1,3489
Rekomendasi Trading:Pasangan mata uang GBP/USD telah bergerak turun selama satu setengah bulan, tetapi prospek jangka panjangnya belum berubah. Kebijakan Donald Trump akan terus memberikan tekanan pada perekonomian AS, sehingga kami tidak mengantisipasi penguatan mata uang AS pada 2026. Dengan demikian, posisi beli dengan target 1,3916 dan lebih tinggi tetap relevan selama harga berada di atas moving average. Jika harga berada di bawah garis moving average, posisi jual dapat dipertimbangkan dengan target 1,3226 dan 1,3184 berdasarkan faktor-faktor geopolitik. Dalam beberapa minggu terakhir, hampir semua berita dan peristiwa bersifat negatif bagi pound Inggris, sehingga memperpanjang tren turun.
Penjelasan Untuk Ilustrasi:Channel regresi linier membantu menentukan tren saat ini. Jika keduanya menuju ke arah yang sama, hal itu menunjukkan bahwa tren tersebut kuat;
Garis moving average (pengaturan 20.0, diperhalus) menentukan tren jangka pendek dan arah yang sebaiknya diikuti dalam aktivitas trading saat ini;
Level Murray adalah level target untuk pergerakan dan koreksi;
Level volatilitas (garis merah) merepresentasikan channel harga yang kemungkinan besar akan menjadi ruang gerak pasangan ini untuk hari berikutnya, berdasarkan indikator volatilitas saat ini;
Indikator CCI yang memasuki area oversold (di bawah -250) atau area overbought (di atas +250) mengindikasikan bahwa tren akan segera berbalik ke arah yang berlawanan.