Emas tetap berada di atas level psikologis $4500, menarik minat pembeli untuk hari kedua berturut-turut.
Pemicu perubahan pasar kali ini berasal dari kabar tentang kesepakatan sementara antara AS dan Iran untuk memperpanjang gencatan senjata selama dua bulan dan memulai diskusi mengenai isu nuklir Iran. Kesepakatan ini masih memerlukan persetujuan dari Trump, tetapi pasar menganggap informasi ini cukup untuk memicu kenaikan. Harga Brent turun sebesar 1,2% menjadi $92,60, menjadikan Mei sebagai bulan terburuk untuk minyak sejak Maret 2020, di mana Brent turun lebih dari 18% bulan ini.
Perhatikan respons Menteri Keuangan Bessent yang, saat ditanya langsung terkait kesepakatan tersebut, hanya menjelaskan bahwa "tim sedang dalam tahap negosiasi" serta menekankan kembali tiga poin penting dari Trump: akses kembali ke Selat Hormuz, penyerahan uranium yang sangat kaya, dan penghentian program nuklir Iran. Dengan kata lain, kesepakatan awal ini hanya terkait dengan perpanjangan gencatan senjata, bukan penyelesaian masalah utama. Pasar sekarang berfokus pada rasa lega, bukan perdamaian sejati.
Namun, bahkan kesepakatan sementara mengenai selat sudah cukup untuk merubah situasi inflasi. Peningkatan pasokan melalui Hormuz diperkirakan bisa menurunkan biaya energi, memberi sedikit ruang bagi The Fed. Terlepas dari itu, informasi mengenai pengeluaran konsumen di AS untuk bulan April yang dirilis kemarin menunjukkan bahwa konflik telah memberikan dampak nyata bagi masyarakat: belanja meningkat, namun pendapatan riil menurun, dan tingkat tabungan jatuh ke titik terendah dalam hampir empat tahun. Ekonomi tetap menunjukkan pertumbuhan, walaupun dengan kecepatan yang lebih lambat, dan inflasi membatasi kebijakan para pengatur saat laju pertumbuhan melambat.
Harga emas mengalami penurunan untuk hari ketiga berturut-turut mencapai sekitar 4. 500 dolar per ons, menandakan rentetan penurunan terlama sejak Oktober 2022. Dolar tetap stabil setelah turun pada hari Kamis, tetapi Wall Street memperingatkan tentang kemungkinan adanya risiko kenaikan lebih lanjut untuk mata uang ini di tengah ekspektasi bahwa suku bunga The Fed akan tetap tinggi. Yen diperdagangkan pada nilai 159,30 per dolar. Data menunjukkan bahwa inflasi di Tokyo menurun secara tak terduga untuk bulan keenam berturut-turut, yang meredakan tekanan pada Bank of Japan. Imbal hasil obligasi Treasury AS dengan jangka waktu sepuluh tahun tetap di angka 4,44%.