Pasar perlahan mulai pulih setelah kejutan bernada hawkish dari The Fed. Indeks S&P 500 dibuka dengan celah naik didorong oleh kabar positif mengenai berakhirnya konflik di Timur Tengah. Penurunan harga minyak menguntungkan perekonomian AS karena menurunkan biaya bagi perusahaan-perusahaan Amerika. Pada saat yang sama, ekspektasi inflasi mulai mereda, dan harapan meningkat bahwa Federal Reserve mungkin tidak akan seagresif yang semula diperkirakan setelah konferensi pers Kevin Warsh.
Dinamika indeks saham AS
Menurut data AS, dalam satu hari kapal tanker yang membawa 12,5 juta barel minyak melintasi Selat Hormuz. Level transit pra-perang akan pulih secara bertahap, yang seharusnya menekan harga Brent dan bertindak sebagai pendorong bagi perekonomian AS serta saham-sahamnya.
Namun, efek tingkat kedua dapat mendorong kenaikan inflasi inti, memaksa The Fed mempertahankan sikap hawkish dan mengangkat imbal hasil US Treasury. Dalam survei Market Pulse terhadap 101 responden, 57% memperkirakan imbal hasil tenor 30 tahun akan naik di atas 5% pada akhir tahun. Level tersebut pernah terlampaui selama konflik di Timur Tengah, tarif yang diberlakukan oleh Gedung Putih pada 2025, dan siklus pengetatan pada 2023.
Kekhawatiran mengenai tingkat federal funds yang lebih tinggi dan imbal hasil Treasury bukan satu-satunya beban bagi S&P 500. JP Morgan memperingatkan bahwa risiko mania pasar meningkat, karena lonjakan saham semikonduktor memaksa investor mengurangi alokasi ke sektor-sektor lain.
Hal ini terlihat di seluruh sektor TI. Belanja besar untuk kecerdasan buatan mengalihkan kas dari raksasa teknologi yang sebelumnya menggunakannya untuk buyback saham. Akibatnya, pada kuartal I hanya Microsoft yang melakukan buyback di antara kelompok tersebut — pembelian kembali senilai USD 3,4 miliar merupakan yang terkecil bagi kelompok ini dalam beberapa dekade.
Dinamika buyback di antara raksasa teknologi
Jadi, para investor jauh dari yakin bahwa reli S&P 500 akan berlanjut. Probabilitas terjadinya dua atau lebih kenaikan federal funds rate pada 2026 naik dari 17% menjadi 53%. Pasar derivatif meningkatkan peluang pengetatan kebijakan The Fed pada September dari 27% menjadi 71%. Pergeseran pandangan investor ini mendorong kenaikan imbal hasil Treasury, meningkatkan biaya pendanaan perusahaan, dan memperlambat pertumbuhan laba.
Jika turunnya harga minyak menjadi katalis positif bagi S&P 500, maka kenaikan suku bunga di pasar utang AS justru menjadi hambatan. Kombinasi keduanya bisa berujung pada konsolidasi jangka pendek pada indeks saham yang lebih luas ini.
Secara teknikal, pada grafik harian, S&P 500 telah kembali menembus level di atas pivot 7.460, yang merupakan kabar baik bagi kubu bullish. Jika indeks mampu bertahan di atas level ini, hal tersebut bisa menjadi alasan untuk melakukan pembelian.