Pada perdagangan terbaru, pasar emas gagal mempertahankan level support psikologis di $4.000 per ounce. Meskipun level ini menarik perhatian signifikan dalam beberapa pekan terakhir, para analis meyakini bahwa koreksi saat ini, yang mencerminkan tren bearish, tidak seharusnya dipandang sebagai akhir dari pasar bullish jangka panjang.
Pada Rabu, posisi "logam kuning" melemah seiring indeks dolar AS menyentuh level tertinggi dalam lebih dari satu tahun. Harga spot emas saat perdagangan tercatat di $3.980,20 per ounce, turun lebih dari 3% dalam sehari.
Dolar menunjukkan penguatan tajam ketika pasar mulai secara aktif memasukkan ekspektasi kenaikan suku bunga ke dalam harga aset. Federal Reserve memberi sinyal niatnya untuk menekan tekanan inflasi. Berdasarkan data CME FedWatch, pasar memproyeksikan kenaikan suku bunga sedini bulan September, dengan kemungkinan pengetatan kebijakan moneter lanjutan pada Desember.
Kendati demikian, Paul Williams, managing director Solomon Global, menekankan bahwa investor sebaiknya melihat dinamika harga emas saat ini dalam konteks yang lebih luas. Ia menjelaskan bahwa penurunan harga emas hampir 30% dari rekor tertinggi bulan Januari bukanlah hal yang luar biasa jika dibandingkan dengan siklus bullish sebelumnya.
"Pada dekade 1970-an, emas turun sekitar 45% antara level puncak pertengahan dekade dan titik terendah tahun 1976, sebelum kemudian melesat ke rekor tertinggi pada 1980. Selama krisis keuangan 2008, harga emas turun sekitar 30%, yang kemudian diikuti kenaikan tajam hingga mencapai rekor historis pada 2011," ujarnya. "Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa koreksi tajam sering kali merupakan bagian dari investasi jangka panjang di emas, dan investor perlu bertanya pada diri sendiri: apakah alasan fundamental untuk memiliki aset ini sudah berubah? Menurut saya, jawabannya tidak."
Terlepas dari aksi jual besar-besaran terhadap emas di tengah meningkatnya biaya peluang untuk memegang aset ini dan sinyal dari Fed mengenai kesiapan untuk menaikkan suku bunga, Williams mencatat bahwa harga emas masih berada jauh di atas level tahun lalu.
"Bahkan pada level saat ini, emas telah menguat hampir 20% dalam 12 bulan terakhir," ia menegaskan. "Faktor-faktor yang telah mendukung nilai emas dalam beberapa tahun terakhir—seperti pembelian oleh bank sentral, ketidakpastian geopolitik, dan tingginya tingkat utang nasional—tidak serta-merta menghilang. Fluktuasi harga jangka pendek sering kali didorong oleh aksi ambil untung, perubahan ekspektasi mengenai suku bunga, dan gejolak nilai tukar, bukannya perubahan fundamental dalam prospek investasi jangka panjang untuk emas."
Meski para analis tetap memegang pandangan optimistis terhadap prospek jangka panjang emas, mereka juga mengingatkan investor mengenai kemungkinan terjadinya koreksi harga lanjutan ke bawah. Sejumlah pakar memperkirakan harga emas berpotensi turun hingga serendah $3.700 per ounce.