Segala sesuatu bisa dipahami melalui perbandingan. Setahun yang lalu, Christopher Waller menyarankan untuk menurunkan suku bunga, dengan kesadaran bahwa pemulihan inflasi ke angka 2% akan memakan waktu lebih lama karena pasar tenaga kerja yang lemah dianggap lebih mengkhawatirkan daripada tekanan harga. Saat ini, gubernur FOMC tersebut menyadari bahwa situasi sudah berubah sepenuhnya. Pasar tenaga kerja telah menunjukkan stabilitas, dan inflasi mulai meningkat kembali. Di sisi lain, Waller tetap optimis bahwa PCE akan kembali ke target yang diinginkan. Sekarang, pertanyaannya bukan lagi tentang sasaran itu sendiri, tetapi seberapa cepat pencapaian bisa terjadi. EUR/USD sangat memperhatikan pengakuan ini.
Menurut ANZ Research, Federal Reserve diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada tingkat saat ini hingga setidaknya pertengahan 2027 sebelum mulai memangkasnya secara bertahap sebanyak 50 basis poin. Guncangan harga tidak menyebabkan lonjakan permanen dalam inflasi secara umum: laju pertumbuhan upah melambat, ekspektasi inflasi tetap stabil, dan angka median serta trimmed mean CPI menunjukkan penurunan. Periode jeda seperti ini diharapkan dapat mengembalikan inflasi ke target tanpa langkah drastic. Untuk dolar AS, hal ini lebih menunjukkan sinyal yang netral dibandingkan dengan benar-benar bersifat "bearish", karena pemangkasan suku bunga akan dilakukan tanpa batas waktu yang jelas.
Hal ini tidak terlalu mungkin mendorong spekulan untuk langsung melepaskan posisi net long dolar mereka, yang saat ini mencapai level tertinggi sejak tahun 2015.
Dinamika Posisi Spekulatif terhadap Dolar ASSementara itu, sebelum serangan Iran terhadap kapal di Selat Hormuz, keadaan di Timur Tengah sebenarnya menunjukkan kemajuan. Lalu lintas melalui rute pengiriman minyak dunia ini telah beradaptasi dengan pola baru, yaitu 30 hingga 60 kapal tanker setiap harinya. Meskipun masih di bawah angka sebelum konflik, jumlah tersebut sudah cukup untuk meredakan ketegangan di pasar global. Para produsen utama di kawasan ini meningkatkan output mereka dan mencari jalur alternatif. Secara bersamaan, negara-negara tidak terburu-buru untuk mengisi kembali cadangan strategis mereka, yang menghasilkan kelebihan pasokan dan memberikan sinyal kemungkinan penurunan lebih lanjut pada harga Brent.
Kembalinya harga minyak ke tingkat sebelum konflik jelas merupakan keuntungan bagi Zona Euro yang mengandalkan impor energi. Namun, anggota Dewan Eksekutif Bank Sentral Eropa, Isabel Schnabel, memperingatkan agar tidak terlalu berhappy-happy. Ia menyatakan bahwa turunnya harga energi tidak berarti semuanya kembali seperti sebelum konflik. Kesepakatan damai masih rapuh, dan pasar masih mempertimbangkan adanya kenaikan biaya minyak di masa depan. Harga gas juga masih sekitar 40 persen lebih tinggi dari level sebelum konflik, sehingga terus memberi tekanan kepada konsumen di wilayah tersebut.
Dengan demikian, gambaran yang kontradiktif muncul untuk EUR/USD. Di satu sisi, jeda panjang The Fed dan turunnya harga minyak menciptakan landasan bagi reli pada pasangan mata uang utama ini. Di sisi lain, rapuhnya kondisi global dan mahalnya harga gas tidak memungkinkan Zona Euro bernapas lega. Euro mungkin mendapat sedikit kelegaan dari jeda tersebut, tetapi jelas masih terlalu dini untuk merayakan kemenangan.
Dari perspektif teknikal, grafik harian EUR/USD menunjukkan fase konsolidasi, dengan beberapa pin bar yang membentuk bayangan panjang saling berlawanan. Ini mengindikasikan ketidakpastian yang kuat. Hanya penembusan level resistance di $1,146 yang akan memungkinkan euro "mengembangkan sayapnya" dan menjadi dasar untuk aksi beli. Sebaliknya, penurunan kuotasi di bawah $1,140 akan memberikan dasar untuk aksi jual.