WTI. Analisis Harga. Prediksi. Kekhawatiran akan Konflik yang Muncul Kembali di Timur Tengah Mendukung Kenaikan Harga Minyak

Pada saat artikel ini ditulis pada hari Rabu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) trading di kisaran $73,80 per barel, naik 1,50% pada hari itu. Kenaikan ini merupakan hasil dari penilaian ulang terhadap risiko pasokan energi global di tengah memburuknya kondisi geopolitik di Timur Tengah.

Pasar minyak mendapat dukungan dari pernyataan Presiden AS Donald Trump, yang menegaskan berakhirnya nota kesepahaman dengan Iran yang sebelumnya ditujukan untuk meredakan konflik di kawasan tersebut. Berbicara dalam KTT North Atlantic Treaty Organization (NATO), Trump menyatakan ketidaksediaannya untuk melanjutkan negosiasi dengan Iran setelah serangkaian serangan terhadap kapal-kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz.

Ketegangan di wilayah tersebut semakin meningkat setelah U. S. Central Command (CENTCOM) memastikan serangan pada infrastruktur militer Iran sebagai reaksi terhadap serangan pada beberapa kapal dagang di Selat Hormuz. Jalur laut yang penting ini merupakan saluran vital bagi sekitar 20% pasokan minyak global, yang menyebabkan kekhawatiran akan kemungkinan gangguan pasokan energi.

Analis dari ING menyoroti bahwa naiknya harga minyak berkaitan erat dengan meningkatnya ketegangan di Teluk Persia serta keputusan Amerika Serikat untuk mencabut lisensi sementara yang membolehkan penjualan tertentu minyak dari Iran. Laporan bank tersebut menunjukkan bahwa langkah ini meningkatkan risiko terjadinya kegagalan dalam negosiasi antara Washington dan Teheran, sementara penurunan stok minyak serta produk minyak di AS, ditambah serangan baru ke kilang minyak Rusia, juga berpengaruh sebagai pendorong kenaikan harga minyak.

Di sisi lain, para pakar di BNY menunjukkan adanya peningkatan ketidakstabilan di pasar keuangan, seiring berkurangnya harapan untuk segera pulihnya aktivitas pelayaran normal melalui Selat Hormuz. Bank tersebut menegaskan bahwa meskipun harga minyak telah menunjukkan reaksi yang signifikan terhadap peningkatan terbaru, perkembangan pasar ke depan akan memainkan peran penting dalam menentukan apakah konflik yang sedang berlangsung ini akan berkembang menjadi krisis geopolitik yang lebih lama dan berpotensi menyebabkan guncangan besar di pasar.

Dari perspektif analisis teknis, harga minyak telah melewati Simple Moving Average (SMA) 200 hari dan 20 hari, memberikan kesempatan bagi para pembeli untuk melanjutkan tren kenaikan. Namun, osilator pada grafik harian masih belum menunjukkan sinyal positif, memperlihatkan bahwa tekanan bearish masih mendominasi pasar. Di grafik 4 jam, osilator menunjukkan sinyal positif, dan indeks kekuatan relatif berada di zona jenuh jual, menandakan terjadinya fase konsolidasi. Sementara itu, jika harga berhasil menembus SMA 100 hari dalam kerangka waktu ini, hal tersebut akan menguntungkan para pembeli.