Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) memulai minggu perdagangan yang baru dengan celah bearish dan terus terkoreksi dari puncak Juli di sekitar $92,50 yang tercatat pada hari Kamis lalu.
Pada Jumat malam, Amerika Serikat menghentikan kampanye pembomannya setelah 13 malam berturut-turut melakukan serangan terhadap target-target Iran, yang mendorong Teheran menangguhkan aksi balasan terhadap sekutu Washington di Timur Tengah. Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Mike Waltz, menyatakan bahwa meskipun kekuatan militer tetap dalam status siaga, Presiden Donald Trump berniat menyisakan ruang bagi negosiasi. Hal ini kembali membangkitkan harapan akan penyelesaian diplomatik atas konflik lima bulan antara Amerika Serikat dan Iran, sehingga menurunkan premi risiko geopolitik dan memberi tekanan turun pada harga minyak.
Sementara itu, pada 26 Juli, lalu lintas pelayaran melalui Selat Bab el-Mandeb menurun setelah pasukan Houthi yang didukung Iran di Yaman menyerang fasilitas minyak Arab Saudi di sepanjang pesisir Laut Merah. Ini meningkatkan kekhawatiran akan potensi gangguan terhadap pasokan minyak global akibat pembatasan transit melalui Selat Hormuz. Akibatnya, para trader enggan membuka posisi jual agresif, yang membantu membatasi penurunan harga minyak lebih lanjut.
Pada saat yang sama, para investor mungkin lebih memilih menunggu perkembangan lanjutan krisis Timur Tengah sebelum menyimpulkan bahwa harga minyak mentah telah mencapai puncaknya dan siap memasuki fase penurunan berkelanjutan.
Para analis di RaboResearch Global Economics & Markets milik Rabobank menyatakan bahwa harga minyak naik tajam di tengah kekhawatiran baru atas gangguan pasokan. Mereka menyoroti bahwa "harga Brent, WTI dan produk olahan melonjak karena gangguan di Selat Hormuz, eskalasi konflik Rusia dan Ukraina, gangguan terminal CPC dan rekor tertinggi harga diesel kembali memicu kekhawatiran terhadap kekurangan pasokan yang lebih luas." Menurut mereka, rangkaian gangguan yang saling berkaitan ini sekali lagi memperkuat kekhawatiran terhadap ketangguhan pasokan minyak global, sementara kombinasi titik-titik panas geopolitik dan hambatan logistik telah memicu fase rally terbaru di kondisi pasar yang sudah sangat kompleks.
Dari perspektif teknikal, WTI menemukan support pada pertemuan EMA 50 hari, SMA 50 hari, dan EMA 14 hari. Pada saat yang sama, osilator momentum tetap berada di wilayah positif, mengonfirmasi bahwa pembeli masih memegang keunggulan. Oleh karena itu, penjual sebaiknya tetap berhati-hati.