Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kinerja greenback terhadap sekeranjang mata uang utama, menarik minat beli pada hari Rabu setelah pelemahan baru-baru ini. Indeks ini telah memangkas sebagian kerugian dari koreksi kemarin dan kembali bergerak di atas level 102,00. DXY diperdagangkan mendekati puncak terbaru yang terlihat pada hari Senin, yang merupakan level tertinggi sejak April 2025, menjelang rilis risalah Federal Open Market Committee (FOMC).
Pelaku pasar mencari sinyal lebih lanjut mengenai langkah The Fed berikutnya di tengah menurunnya probabilitas kenaikan suku bunga pada Oktober. Sinyal-sinyal tersebut akan sangat memengaruhi pergerakan jangka pendek DXY. Meski peluang kenaikan suku bunga di bulan Oktober menurun, pasar masih memperkirakan sekitar 85% kemungkinan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga The Fed sebelum akhir tahun. Ketidakpastian geopolitik dan kenaikan imbal hasil US Treasury juga menopang permintaan terhadap dolar sebagai aset safe haven.
Perkembangan geopolitik turut mendorong penguatan dolar. Di tengah krisis Timur Tengah saat ini, pasukan yang berafiliasi dengan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan didukung oleh Arab Saudi dilaporkan berhasil menguasai titik-titik strategis di sepanjang pesisir Laut Merah, termasuk wilayah di sekitar Selat Bab-el-Mandeb. Sebagai respons, kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran melancarkan serangan terhadap fasilitas-fasilitas penting di Arab Saudi, termasuk kilang Aramco di Riyadh.
Sementara itu, Iran meningkatkan aktivitasnya di Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir, yang turut mendorong harga minyak rebound dari level terendah bulanannya. Pada saat yang sama, imbal hasil US Treasury tetap berada dekat level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Kombinasi faktor ini memberikan dukungan tambahan bagi DXY dan menguatkan ekspektasi berlanjutnya tren naik yang terlihat selama sebulan terakhir. Akibatnya, setiap koreksi teknikal diperkirakan akan terbatas dan berpotensi menjadi peluang beli; meskipun demikian, para investor sebaiknya tetap berhati-hati sebelum menyimpulkan bahwa indeks telah mencapai puncak jangka pendek.
Secara teknikal, DXY masih mempertahankan bias bullish jangka pendek, dengan diperdagangkan di atas level psikologis 102,00. Sikap bullish ini dikonfirmasi oleh oscillator teknikal, meskipun Relative Strength Index (RSI) 14-periode di 71,45 menunjukkan tekanan beli yang kuat. Angka tersebut juga mengindikasikan kondisi overbought dan memberi sinyal potensi jeda atau koreksi ringan dalam waktu dekat. Support berada di 101,75, sementara resistance berada di 102,22.
Tabel di bawah ini menunjukkan persentase perubahan nilai dolar AS terhadap mata uang utama untuk hari ini. Kenaikan terbesar tercatat terhadap yen Jepang.