Indeks saham Asia melemah setelah produsen peralatan chip ASML mengatakan tidak akan mampu sepenuhnya memenuhi permintaan, yang kembali memicu kekhawatiran terhadap perdagangan terkait AI. MSCI Asia Pacific turun 0,1% setelah sebelumnya sempat menguat 0,7%. Kontrak berjangka Nasdaq 100 berbalik melemah, sementara kontrak S&P 500 dan Eropa menghapus sebagian besar kenaikannya. Dolar AS sedikit melemah menjelang rilis data inflasi utama di Amerika Serikat.
Berita terbaru dari ASML memberikan sinyal yang beragam. Perusahaan tersebut memperingatkan bahwa mereka tidak dapat sepenuhnya memenuhi permintaan dalam dua tahun ke depan, tetapi pada saat bersamaan menaikkan batas bawah proyeksi pendapatan 2026. Kabar ini paling menghantam Korea Selatan: Kospi, yang menjadi barometer investasi AI dan semikonduktor, turun 1% setelah sebelumnya sempat naik 2,6% dalam sesi yang sama. Hal ini tidak mengejutkan mengingat betapa sensitifnya pasar Korea terhadap keraguan apakah belanja besar-besaran di sektor AI akan menghasilkan imbal hasil yang sepadan. Saat ini, setiap berita yang mengisyaratkan adanya friksi di sektor tersebut terasa lebih kuat dampaknya dibandingkan proyeksi positif dari perusahaan.
Pasar Tiongkok juga sedang berada di bawah tekanan. CSI 300 turun 0,3% ke level terendah sejak Agustus 2025 dan terkoreksi lebih dari 15% dari puncaknya di bulan Juni, mendekati wilayah pasar bearish. Para investor semakin skeptis bahwa stimulus dalam skala besar akan mampu menghidupkan kembali pertumbuhan.
Harga minyak turut menambah ketidakpastian. Brent naik 0,6% ke $106,30/bbl dari sekitar $105 pada hari sebelumnya, dan minyak mentah AS melanjutkan kenaikan lima hari beruntun. Gelombang serangan baru di Timur Tengah memperkuat keraguan atas kemungkinan pemulihan cepat aliran minyak dari Teluk Persia. Ini buruk bagi inflasi: harga minyak yang lebih tinggi mendorong tekanan harga, membuat tugas The Fed semakin berat dan mempersulit harapan akan perubahan sikap menuju kebijakan yang lebih dovish.
Itu sebabnya seluruh perhatian tertuju pada laporan CPI AS. Par aekonom memperkirakan bahwa inflasi bulanan headline akan naik 0,6% setelah kenaikan 0,4% di bulan sebelumnya, yang akan menjadi kenaikan bulanan terkuat dalam lima bulan terakhir. Komentar dari Presiden The Fed New York, John Williams, yang membuka kemungkinan kenaikan suku bunga lagi tahun ini, tetapi tidak melihat perlunya kelanjutan pengetatan pada 2027, sedikit meredakan sentimen.
Pasar obligasi untuk sementara relatif tenang. Imbal hasil Treasury 10 tahun berada di sekitar 5,20% setelah menyentuh 5,31% pada 8 Oktober. Emas bertahan dekat $4.160/ounce, sedikit di bawah level tertinggi Selasa pagi di $4.192.
Menurut pandangan saya, jika CPI tercatat di level 0,6% month-on-month atau lebih rendah, tekanan pada dolar kemungkinan berlanjut, imbal hasil dapat bergerak turun, dan saham Asia berpeluang menguat, meski saham semikonduktor akan tetap rentan mengingat kabar dari ASML. Jika inflasi justru mengejutkan di atas prediksi, spekulasi kenaikan suku bunga lanjutan akan kembali menguat, dolar terapresiasi, dan selera risiko akan terpukul, khususnya di Asia dan pada saham-saham yang terpapar tema AI. Dengan latar belakang harga minyak yang tinggi dan arus keluar modal dari kawasan, saya memperkirakan setiap rebound akan cenderung terbatas. Tanpa penurunan harga minyak yang berkelanjutan, saham Asia kemungkinan akan tertinggal.
Untuk analisis teknikal S&P 500, tugas langsung bagi pembeli hari ini adalah menembus level resistance di $7.824. Hal itu akan menunjukkan momentum kenaikan dan membuka jalan menuju $7.841. Mempertahankan level $7.862 juga menjadi prioritas bagi kubu bull untuk memperkuat posisi. Jika harga bergerak turun di tengah merosotnya selera risiko, pembeli harus muncul di sekitar $7.810. Breakout ke bawah level tersebut kemungkinan akan mendorong S&P 500 turun ke $7.793 dan membuka jalan menuju $7.774.