Perekonomian Tiongkok kembali berada pada kondisi yang sulit. Menurut Li Qiang, Perdana Menteri Tiongkok, lemahnya permintaan dan kelebihan kapasitas merupakan risiko utama terhadap perekonomian nasional.
Pejabat tersebut meyakini bahwa permintaan domestik yang tidak mencukupi terhadap produk-produk Tiongkok dan kelebihan kapasitas di beberapa sektor ekonomi merupakan ancaman bagi Tiongkok, sehingga menghalangi negara tersebut dalam mencapai keberlanjutan ekonomi.
Sebelumnya, pihak berwenang Tiongkok mengumumkan target pertumbuhan pada tahun 2024. Pemerintah menyatakan akan melakukan segala upaya untuk menjaga pertumbuhan ekonomi tetap stabil di sekitar 5%, angka yang digambarkan oleh banyak ahli sebagai angka yang "ambisius". Namun, faktor-faktor yang disebutkan di atas dapat menjadi penghambat dan memberikan tekanan pada negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia itu.
Perdana Menteri Tiongkok juga prihatin dengan berbagai risiko lain yang dapat menghambat pelaksanaan tugas yang ditetapkan oleh pemerintah. “Landasan untuk pemulihan berkelanjutan dan peningkatan perekonomian negara kita masih belum kokoh,” tegas Li.
Pada akhir Januari, pejabat tersebut menyatakan perekonomian nasional tumbuh pada laju tahunan 5,2% pada tahun lalu. Berdasarkan estimasi para analis, target pertumbuhan PDB yang ditetapkan pemerintah daerah pada tahun 2024 saat ini hampir menyamai angka yang dicapai pada tahun 2023.