Nvidia sedang menghadapi masa-masa sulit

Nvidia, perusahaan teknologi raksasa, kini sedang menghadapi masa-masa sulit. Setelah sempat alami lonjakan yang memusingkan, kini terjadi penurunan yang mengejutkan. Kapitalisasi pasar perusahaan ini tiba-tiba anjlok. Menurut Financial Times, kapitalisasi pasar Nvidia anjlok $550 miliar hanya dalam kurun waktu tiga hari trading.

Mantan perusahaan paling berharga di dunia ini mengalami penyusutan nilai sebesar $550 miliar dalam waktu singkat. Pada hari Senin, 24 Juni, nilai kapitalisasi pasarnya turun dari posisi puncak di $3,46 triliun ke $2,905 triliun. Para pakar memperkirakan harga saham Nvidia turun 16% selama periode ini, dengan total penurunan sebesar $430 miliar dalam kurun waktu tiga hari trading. Ini merupakan penurunan dalam kurun tiga hari terbesar yang pernah tercatat.

Contoh buruk yang ditampilkan oleh pembuat chip asal Amerika Serikat berdampak negatif pada perusahaan lain di sektor ini. Minggu ini, saham Broadcom turun 4%, Qualcomm anjlok 5,5%, ARM jatuh 5,8%, dan Taiwan Semiconductor Manufacturing Company turun 3,5%.

Tumbangnya Nvidia semakin dramatis mengingat seminggu sebelumnya, perusahaan ini berhasil mengungguli raksasa seperti Microsoft dan Apple. Dua perusahaan tersebut telah memimpin pasar sejak tahun 2019, dan terkadang saling bertukar posisi teratas. Baru-baru ini, Nvidia menyalip mereka, dengan nilai saham yang melonjak sebesar 140% sejak awal tahun.

Kemungkinan katalis untuk penurunan ini adalah kabar bahwa Jensen Huang, CEO Nvidia, akan menjual saham senilai $95 juta. Saat itu, perusahaan mereka sedang mendekati atau berada di puncak. Perlu dicatat bahwa penjualan ini bukanlah sebuah kejutan, karena penjualan ini merupakan bagian dari rencana trading yang disetujui pada Maret 2024. Rencana tersebut memungkinkan anggota perusahaan untuk menghindari tuduhan taktik insider trading.

Para analis yakin bahwa Nvidia merupakan salah satu penerima mamfaat utama dari revolusi AI. Alasannya adalah karena OpenAI, sang kreator dari ChatGPT yang populer, menggunakan prosesor grafis Nvidia untuk sebagian besar perkembangannya.