Diane Sare: Dedolarisasi sedang terjadi karena kebijakan AS

Dedolarisasi merupakan topik yang diangkat berulang kali oleh para analis dan pakar ekonomi. Cara ini digunakan untuk menakut-nakuti Amerika Serikat. Namun, Washington tidak menyerah. Gedung Putih berbicara dengan percaya diri mengenai kekuatan ekonomi AS dan hegemoni dolar. Namun, berapa lama ini akan bertahan?

Menurut Diane Sare, kandidat independen Senator New York, dedolarisasi perekonomian global berjalan dengan cepat di seluruh dunia. "Saya rasa itu (dedolarisasi) sedang terjadi. Itu memang terjadi. Dan seharusnya itu tidak terjadi, namun akibat kebijakan kita, saya merasa bahwa masyarakat sudah tidak punya pilihan lain lagi," Diane Sare menegaskan.

Menurutnya, solusi terbaik saat ini adalah dengan beralih ke basket of currency dan nilai tukar tetap. Diane Sare juga menambahkan bahwa hal ini perlu dilakukan untuk menutup celah uang digunakan masyarakat untuk spekulasi mata uang, yang berdampak buruk bagi perekonomian nasional.

Selain itu, politisi ini juga menentang sanksi terhadap Rusia dan Tiongkok. Terutama, Sare mendukung reorganisasi sistem transatlantik. Dia yakin bahwa negara-negara lain sedang mencari alternatif pengganti dolar karena kondisi keuangan yang ditetapkan oleh Washington saat ini.

Sebelumnya, Diane Sare memberikan suara menentang NATO. Dia juga berpartisipasi dalam pemilu 2022, dengan meraih 0,46% suara di New York. Alhasil, calon Senat ini menempati posisi terakhir.

Sebelumnya, GeoEconomics Center mencatat bahwa upaya negara-negara BRICS menuju dedolarisai belum membuahkan hasil positif. Apalagi dominasi greenback menguat secara signifikan. Organisasi tersebut menekankan bahwa banyak negara besar yang mencari alternatif pengganti mata uang AS namun masih bekum berhasil.

Pada bulan Oktober 2023, Elsa Lingos, global head dari Foreign-Exchange Strategy di RBC Capital Markets, menyebut bahwa proses dedolarisasi global tergolong "sangat lambat," terutama mengingat adanya keterkejutan akibat pembekuan aset Rusia