Perekonomian Turki kembali menghadapi tekanan dari inflasi yang memecahkan rekor dan suku bunga tinggi. Pada 23 Juli, bank sentral Turki memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya pada level 50% yang merupakan rekor tertinggi untuk pertemuan keempat berturut-turut.
Regulator tersebut mempertahankan kebijakan moneter yang ketat di tengah tekanan inflasi yang tinggi. Sebelumnya, pada Maret 2024, bank sentral menaikkan suku bunga acuannya dari 45% menjadi 50%, dengan alasan memburuknya prospek inflasi.
Data dari institut statistik Turki, TUIK, menunjukkan bahwa inflasi tahunan di negara tersebut melambat menjadi 71,6% pada bulan Juni, menandai penurunan pertama dalam setahun. Pada bulan Mei, tingkat inflasi berada di angka 75,45%. Menurut para pembuat kebijakan, bank sentral siap untuk tetap berpegang pada sikap moneter yang ketat sampai terjadi penurunan inflasi yang berkelanjutan ke level target.
Sebelumnya dilaporkan bahwa pemerintah Turki berencana untuk merevisi kebijakan pajak dan memperkenalkan tarif pembayaran minimum untuk bisnis. Dalam konteks ini, Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang dipimpin oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan bermaksud untuk mengesahkan paket guna memperluas basis pajak. Otoritas Turki percaya bahwa pengetatan kebijakan fiskal akan membantu mengendalikan inflasi yang melonjak.