Menurut Goldman Sachs, terdapat cara terbatas untuk dapat meningkatkan pasokan minyak domestik tahun depan, terlepas dari siapa yang memenangkan pemilu AS pada bulan November.
Jumat lalu diawali oleh kenaikan harga minyak yang cenderung moderat. Data ekonomi dari Amerika Serikat hasilnya lebih baik dari yang diantisipasi, memperkuat ekspektasi bahwa permintaan minyak dari konsumen energi terbesar di dunia ini mungkin meningkat. Dengan latar belakang ini, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk bulan September adalah di $82 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate AS ditutup pada $78 per barel.
Di masa mendatang, Goldman Sachs memperkirakan harga minyak mentah Brent akan mencapai rata-rata $75 hingga $90 pada tahun 2025. Skenario ini mungkin terjadi apabila ekonomi AS tetap berada dalam kondisi baik, permintaan minyak stabil, dan OPEC beserta sekutunya menjaga pasar tetap terkendali.
Meskipun ada banyak ketidakpastian terkait kebijakan perdagangan, tarif impor minyak mentah AS tampaknya tidak mungkin diberlakukan," kata bank investasi terkemuka itu. Namun, Goldman Sachs tidak mengesampingkan kemungkinan bahwa harga minyak dapat turun hingga $11 per barel pada tahun depan apabila Amerika Serikat menerapkan tarif 10% pada semua barang impor. Selain itu, apabila Federal Reserve menunda pemangkasan suku bunga setelah tahun 2025 karena inflasi yang tinggi, harga minyak berpeluang turun hingga $19, sedangkan Brent akan dijual senilai $62, bukan $81 seperti yang diproyeksikan.