​Akankah Amerika menjadi lebih hebat jika Trump menjadi Presiden?

Think tank UBS Research memutuskan untuk membuat prediksi sedikit lebih menghibur dengan menyatakan bahwa kemungkinan kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih dapat membuat perekonomian kian berkilau dan menghidupkan kembali pasar saham. Para analis dengan hati-hati menyatakan bahwa keajaiban ini dapat terjadi jika Donald Trump menurunkan pajak, melonggarkan tekanan regulasi, dan, tentu saja, mendorong nilai dolar AS turun.

Manuver ekonomi dan konsekuensinya

Menurut para analis, pemerintahan Trump yang baru kemungkinan akan memperkenalkan penurunan pajak yang murah hati, terutama untuk bisnis. Memang, tidak ada yang akan menolak keuntungan dan investasi ekstra. Selain itu, para investor mengantisipasi pelonggaran regulasi karena lebih sedikit aturan berarti lebih banyak kebebasan. Mengenai trik favorit Trump dengan dolar AS, UBS yakin bahwa Trump akan sulit meyakinkan seluruh dunia untuk mendevaluasi mata uang tersebut. Oleh karena itu, ia bisa berusaha secara lokal untuk melemahkan kekuatannya. Kebijakan perdagangan Trump, yang bertujuan mendukung produsen Amerika dengan kenaikan cukai impor, mungkin memberi kesempatan pada perusahaan-perusahaan domestik untuk bersaing dengan perusahaan-perusahaan luar negeri.

Siapa yang akan diuntungkan dan siapa yang tidak?

Sektor keuangan diperkirakan akan dibanjiri uang seperti Paman Gober dalam kolam koinnya. Tujuan ini akan dicapai dengan pelonggaran regulasi dan kenaikan spread suku bunga. UBS mengingatkan para investor bahwa saham keuangan meroket setelah kemenangan Trump pada 2016. Jadi, Wall Street harus bersiap untuk déjà vu. Industri yang bergantung pada siklus ekonomi, kecuali sektor terkait kemewahan, juga akan diuntungkan. Oleh karena itu, mereka yang ingin berinvestasi dalam saham bernilai dan sektor yang sensitif terhadap ekonomi harus memanfaatkan momen ini.

Panggung global dan urusan perdagangan

UBS menekankan bahwa kesuksesan Amerika tidak akan terjadi dalam ruang hampa—hal ini akan bergantung pada ekonomi global dan seberapa cepat Tiongkok mendapatkan momentumnya kembali. Negara-negara yang memiliki hhubungan ungan dagang dengan AS, seperti Korea Selatan, Jerman, dan Jepang, mungkin merasa cemas akibat kenaikan bea impor. Di sisi lain, India dan Inggris bisa santai karena tidak terpengaruh oleh kenaikan bea. Terakhir, tetapi tidak kalah penting, para ahli berspekulasi tentang masalah anggaran. Jika Trump kembali menjabat, defisit bisa melebihi 7% dari PDB pada 2028, terlepas dari pertempuran partai. Para analis UBS memperkirakan bahwa di bawah pemerintahan Partai Republik, defisit akan sedikit lebih tinggi. Pelaku pasar menyadari bahwa defisit anggaran akan mencapai 7% atau bahkan lebih tinggi.

Trik perdagangan dan aksi inflasi

Trump tidak akan berdiam diri dan berencana untuk memberlakukan bea impor: 60% untuk barang-barang Tiongkok dan 10% untuk barang-barang dari negara lain. Ini bisa secara signifikan mengurangi permintaan barang-barang tersebut dan memicu respons pasar. Terakhir kali, reaksi pasar saham cenderung bearish, terutama di sektor ekspor. Jadi, para investor Wall Street harus bersiap menghadapi roller coaster lainnya.