Konflik militer yang berkepanjangan, kerusuhan dan mewabahnya kekerasan serta terus menurunnya produksi gas dan minyak membuat bisnis di kawasan ini gulung tikar.
Sejak awal perang Arab-Israel di 1948, situasi geopolitik semakin memburuk. Jumlah prajurit yang secara aktif terlibat dalam konflik militer terus meningkat, wilayah kekerasan meluas dan teknologi persenjataan terus ditingkatkan.
Jumlah korban yang terus meningkat membuat permasalahan semakin buruk. Konflik terakhir di Gaza diklaim merenggut 2.000 korban di Pakistan dan 60 prajurit Israel. Perang sipil yang tak ada habisnya, konflik antar kelompok dan permasalahan serius sosial-ekonomi di Irak dan Suriah merupakan bukti langsung tingkat kekerasan yang mengerikan di kawasan tersebut. Seluruh faktor ini mengakibatkan daya tarik Teluk Persia yang masih memiliki kandungan gas alam dan minyak terbesar di dunia memudar.
Keuntungan melaksanakan bisnis di kawasan ini dipertanyakan oleh para pemilik perusahaan-perusahaan besar minyak karena biaya yang meningkat akibat perang. Selain itu, resiko akan adanya gangguan pasokan semakin tinggi. Biaya operasional meningkat karena perusahaan harus terus meningkatkan anggaran untuk keamanan perusahaan.
Pusat industri minyak dan gas perlahan beralih ke Afrika, Asia, Amerika Utara dan Amerika Selatan. Kazakhstan dan Azerbaijan juga memiliki cadangan minyak yang besar. Cadangan minyak yang besar juga ditemukan di Afrika Selatan, Afrika Barat dan Amerika Latin baru-baru ini.