Cengkeraman Beijing terhadap obat-obatan penting memicu ketegangan dalam konflik dagang AS-Tiongkok

Tiongkok tampaknya memperluas pengaruhnya dalam persaingan ekonomi yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat, tidak hanya melalui dominasinya dalam logam tanah jarang, tetapi kini melalui kendali diam-diamnya atas rantai pasokan farmasi.

Menurut laporan Financial Times baru-baru ini, Amerika Serikat sangat bergantung pada Tiongkok untuk bahan aktif farmasi utama yang digunakan dalam hampir 700 obat esensial. Bahan-bahan ini termasuk antibiotik, perawatan kardiovaskular, terapi kanker, dan obat alergi, yang semuanya penting bagi kesehatan masyarakat.

Selama bertahun-tahun, Washington berasumsi bahwa kebijakan perdagangan agresif dan tekanan tarif pemerintahan Trump memberi AS keunggulan dalam hubungan ekonominya dengan Tiongkok. Kenyataannya, Beijing memegang kendali yang jauh lebih besar daripada yang terlihat. Monopoli Tiongkok yang nyaris ketat atas komponen obat-obatan penting berarti bahwa jika ekspor terganggu, beberapa lini manufaktur AS dapat segera terhenti.

Meskipun Washington telah berupaya mengurangi ketergantungan melalui sanksi, tarif impor, dan proposal untuk membatasi impor farmasi buatan Tiongkok, Beijing tidak mundur. Sebaliknya, Tiongkok justru memperkuat posisi strategisnya, maju di sektor teknologi tinggi, dan mengembangkan alternatif bagi kepemimpinan AS dalam kecerdasan buatan dan bioteknologi.

Dalam skenario di mana akses terhadap antibiotik atau obat kanker bergantung pada kebijakan ekspor Tiongkok, konflik perdagangan memasuki dimensi baru. Meskipun para pembuat kebijakan Amerika sedang mempertimbangkan untuk mengembalikan produksi farmasi ke Amerika Serikat, risiko Tiongkok yang menjadikan rantai pasokan sebagai senjata terlalu besar untuk diabaikan.