Para investor institusional berebut membeli emas batangan, karena tidak ingin terus merugi

Di tengah volatilitas makroekonomi dan geopolitik global, emas mengukuhkan posisinya sebagai aset strategis utama. Menurut laporan terbaru dari BCA Research, likuiditas tinggi dan potensi diversifikasinya sepenuhnya mengkompensasi investor atas ketiadaan yield—bahkan selama periode suku bunga tinggi.

Tim analis yang dipimpin chief strategist BCA, Juan Correa, mencatat bahwa pasar emas tetap sangat dalam. Likuiditasnya bersaing langsung dengan major currency pairs, menjadikan logam ini “murah untuk diperdagangkan” dan alat efektif untuk rebalancing portofolio secara cepat pada masa stres pasar.

Saat menilai instrumen investasi yang optimal, para analis memperingatkan agar tidak terlalu bergantung pada saham perusahaan penambang emas. Saham miners memberikan leverage operasional terhadap harga emas tetapi memasukkan risiko korporasi spesifik ke dalam portofolio. Untuk hedging “murni”, BCA merekomendasikan penggunaan physically backed bullion ETFs atau posisi spot langsung—keduanya memberikan excess returns tanpa terpapar volatilitas neraca sektor mining.

Nilai strategis emas diperkuat oleh profil volatilitasnya yang unik. Berbeda dengan aset tradisional yang korelasinya cenderung melonjak mendekati 1,0 saat krisis, emas secara historis mempertahankan korelasi rendah bahkan negatif terhadap saham dan obligasi. Ini menjadikannya diversifier andal yang mampu meredam drawdown portofolio secara efektif.

Analis BCA menyimpulkan bahwa ekspansi fiskal dan krisis di Timur Tengah telah menggeser fokus pasar secara tegas: investor institusional kini tidak lagi memperdebatkan “apakah memegang emas,” melainkan memikirkan secara praktis bagaimana mengintegrasikannya. Logam mulia bukan lagi sekadar taruhan defensif, melainkan komponen fundamental strategi pertumbuhan yang memberikan return tak berkorelasi saat instrumen hedging tradisional gagal.