Gedung Putih bersiap untuk memperpanjang blokade ekonomi terhadap Iran

Presiden AS Donald Trump telah mengarahkan pemerintahannya untuk menyusun rencana kampanye tekanan jangka panjang terhadap ekonomi Iran, menggeser fokus dari intervensi militer langsung menjadi pencekikan ekonomi jangka panjang. Menurut pejabat AS, strategi baru ini bertujuan untuk pengurangan radikal ekspor minyak Iran dan pembatasan ketat pada pengiriman pelabuhan. Washington memandang transisi ke blokade menyeluruh sebagai taktik tekanan yang optimal, mengingat bahwa melanjutkan pemboman ekstensif membawa risiko geopolitik yang tidak dapat diterima, dan prospek untuk resolusi diplomatik yang cepat tetap sulit dicapai setelah gencatan senjata April.

Eskalasi ketegangan terkait dengan penolakan pemerintahan AS terhadap rencana de-eskalasi tiga fase yang diusulkan oleh Teheran. Inisiatif Iran menyerukan pembukaan kembali Selat Hormuz segera sebagai imbalan atas penundaan negosiasi nuklir. Namun, Washington menganggap konsesi ini tidak cukup dan secara kategoris menolak untuk melunakkan tuntutan utamanya—moratorium dua puluh tahun untuk pengayaan uranium disertai dengan pengawasan internasional tanpa batas waktu. Para ahli memperingatkan bahwa sikap yang tidak kompromi seperti itu dapat membawa konflik ke fase yang berkepanjangan tanpa prospek yang jelas untuk kesepakatan perdamaian.

Kabar mengenai blokade jangka panjang yang akan segera terjadi langsung berdampak pada pasar energi global, di mana kekurangan pasokan yang tajam telah terjadi karena blokade Selat Hormuz. Harga pasar melonjak drastis: harga minyak mentah Brent naik 2,9%, mencapai $114,46 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate AS melonjak menjadi $102,79. Mempertahankan status quo diperkirakan akan menjaga harga hidrokarbon global pada tingkat yang sangat tinggi dalam jangka menengah.