Pembukaan kembali selat Hormuz meredupkan prospek kenaikan harga minyak

Departemen Energi AS secara signifikan memangkas ekspektasi harga minyak seiring de‑eskalasi di Timur Tengah. Rerata proyeksi harga Brent crude untuk 2026 direvisi turun 14%, dari $95,39 menjadi $81,91 per barel.

Ke depan, departemen memprediksi penurunan yang lebih dramatis, dengan harga diperkirakan turun ke $64,76 per barel pada 2027. Faktor utama yang memberi tekanan pada pasar minyak adalah akumulasi stok minyak global yang berkelanjutan.

Revisi cepat atas proyeksi ini dipicu oleh meredanya ketegangan geopolitik dan kembalinya lalu lintas tanker melalui Strait of Hormuz. Pasar sudah mulai mencerminkan perubahan tersebut: pada Juni, harga rata‑rata Brent turun menjadi $85, turun $22 dibandingkan level Mei. Tren turun berlanjut, dengan futures September diperdagangkan di bawah $75 per 7 Juli. Departemen Energi memperkirakan harga minyak akan menyentuh $70 per barel pada kuartal keempat.

Tekanan tambahan pada harga datang dari pemulihan pasokan global. Awal Juli, Arab Saudi—eksportir minyak terbesar dunia—meningkatkan ekspor crude mendekati level sebelum operasi militer Israel dan AS di Iran.