Christopher Waller, anggota Dewan Gubernur Federal Reserve System, menyampaikan pernyataan lugas mengenai risiko kenaikan harga yang berkepanjangan. Ia memperingatkan adanya kemungkinan besar kenaikan suku bunga dalam waktu dekat, seraya melontarkan komentar ironis bahwa "menatap tajam inflasi hingga ia lumer di bawah tatapan kita yang mengintimidasi bukanlah sebuah pilihan." Menurut Waller, The Fed berada di persimpangan jalan; jika data makroekonomi terbaru menunjukkan percepatan kembali pada inflasi inti, regulator tidak akan memiliki pilihan selain segera memperketat kebijakan moneter.
Retorika tegas Waller sangat kontras dengan gaya komunikasi yang lebih berhati-hati dari Ketua baru The Fed, Kevin Warsh, yang ditunjuk oleh Presiden Donald Trump. Berbeda dengan Warsh yang menghindari pemberian janji spesifik, Waller menekankan perlunya transparansi penuh terhadap pasar, dengan menyatakan bahwa bank sentral sebaiknya tidak memberikan kejutan tak terduga kepada para investor. Ia menyoroti bahwa tekanan harga di dalam negeri dipicu oleh kenaikan biaya energi, tarif perdagangan baru, serta investasi besar-besaran dalam infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Waller menegaskan bahwa The Fed harus siap bertindak secara proaktif guna mencegah terulangnya krisis inflasi seperti yang terjadi pada periode 2021-2022.
Kekhawatiran akan gelombang baru kenaikan harga semakin menguat setelah pertemuan The Fed bulan Juni, yang merupakan pertemuan pertama di bawah kepemimpinan Warsh. Dalam pertemuan tersebut, regulator mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5%–3,75%, namun merevisi secara signifikan perkiraan inflasi tahunan untuk tahun 2026, yakni menaikkannya dari 2,7% menjadi 3,6%. Kecemasan investor kian diperparah oleh data statistik bulan Mei yang menunjukkan bahwa tingkat inflasi AS melampaui angka 4% untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir.