Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Washington dapat mengambil alih kendali atas sumber daya minyak Iran, serupa dengan kesepakatan baru-baru ini terkait cadangan minyak Venezuela. Saat berbicara kepada para wartawan di klub golfnya di Doonbeg (Irlandia), pemimpin Gedung Putih tersebut mengisyaratkan kemungkinan kehadiran militer dan ekonomi yang berkepanjangan di kawasan itu jika tidak ada penyelesaian politik yang dicapai. "Pada akhirnya, kita akan pergi, kecuali jika kita memutuskan untuk tetap tinggal dan menguasai minyaknya, seperti di Venezuela. Itu urusan mereka. Mereka mungkin senang," demikian dilaporkan media.
Retorika presiden ini sejalan dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya mengenai perluasan besar-besaran basis sumber daya energi Amerika Serikat. Sebelumnya, saat berbicara di Dallas dalam acara Partai Republik menjelang pemilihan umum sela Kongres pada bulan November, Trump mengumumkan bahwa ia telah berhasil mendapatkan akses ke 65 miliar barel minyak di Venezuela, seraya memperkirakan jumlah tersebut sebagai pasokan energi yang terjamin selama 500 tahun bagi perekonomian AS. Kini, pemimpin Gedung Putih tersebut menerapkan pendekatan serupa terhadap operasi militer di Timur Tengah, dengan mengaitkan penyelesaian konflik tersebut pada pengambilalihan kendali langsung atas aset minyak pihak lawan.
Pernyataan semacam itu muncul di tengah eskalasi ketegangan yang tajam di Teluk Persia, di mana serangan terhadap kapal tanker dan infrastruktur telah mendorong harga minyak mentah Brent mendekati angka 100 dolar AS per barel. Para ahli mencatat bahwa sinyal kesediaan untuk menempatkan ladang minyak Iran di bawah pengelolaan pihak luar bertujuan untuk memberikan tekanan maksimal terhadap Teheran menjelang kemungkinan negosiasi, sekaligus menyampaikan pesan kepada para pemilih Amerika bahwa keuntungan ekonomi langsung dapat diperoleh dari keterlibatan dalam konflik regional yang berkepanjangan.