Industri otomotif Tiongkok akan menguasai sepertiga pasar global di tengah penerapan tarif baru oleh Eropa.

Para analis UBS memperkirakan bahwa pada 2030 produsen mobil asal Tiongkok akan menguasai sekitar 37% pangsa pasar global. Menurut UBS, pangsa merek‑merek berbasis China meningkat cepat: dari 22% pada paruh pertama 2026, tren ini bergerak menuju rekor historis baru seiring tumbuhnya kepercayaan konsumen. UBS juga menaikkan proyeksi untuk pasar Eropa yang strategis dari 18% menjadi 20%, meskipun saat ini produsen Tiongkok baru memegang sekitar 8% pangsa di kawasan tersebut.

Survei besar UBS menunjukkan 36% konsumen Eropa sudah serius mempertimbangkan membeli kendaraan listrik (EV) buatan Tiongkok. Minat praktis terhadap merek Tiongkok kini melampaui permintaan gabungan untuk model tradisional Jepang dan Korea. Faktor pendorong utama adalah rasio harga‑terhadap‑kualitas yang menarik, elektronik canggih, dan sistem berkendara otonom bawaan. Dorongan ekspansi global juga datang dari lemahnya permintaan domestik di Tiongkok, yang mendorong korporasi untuk agresif mengalihkan produksi ke pasar ekspor.

Eropa tetap menjadi medan pertarungan utama. Kemajuan raksasa Tiongkok hanya bisa diperlambat lewat pengenaan tarif impor baru, aturan lokalisasi yang lebih ketat, harga bekas yang rendah, dan jaringan layanan purna jual yang masih terbatas. Meski demikian, para ahli memperkirakan pemimpin seperti BYD, Geely, Chery, SAIC, Leapmotor, dan Xiaomi akan terus menggantikan pesaing pasar massal di Eropa dan Asia. Posisi paling terlindungi tampak milik merek‑merek mewah Eropa dan industri otomotif AS, yang secara sengaja melindungi diri dari kompetisi Asia di balik hambatan perdagangan yang ketat.