Pemerintah Cina minggu ini mengumumkan larangan penjualan saham oleh kuil kepada para investor agar dapat menghentikan komersialisasi agama yang tak terkendali di negara tersebut, The Associated Press melaporkan. Sebelumnya, para pemimpin beberapa kuil Budha ternama menginformasikan rencana mereka mengenai penawaran umum perdana (IPO).
Para pemimpin Budha yang berziarah ke Gunung Wutai di Shanxi dan Gunung Jiuhua di Provinsi Anhui ingin menjadi pemegang saham di pasar saham. Selain itu, Kuil Shaolin ternama di dunia juga dilaporkan pernah menerbitkan IPO dan menghadapi kritik dari media dan masyarakat.
Perusahaan yang menjalankan kuil sebagai usaha bisnis memiliki kesempatan untuk menghindari pembatasan dari pemerintah dengan memindahkan tempat-tempat pemujaan dari daftar aset mereka.
Situs Budha di Gunung Emei di Sichuan telah berada di bursa saham namun aset-aset yang terdaftar termasuk sebuah hotel, perusahaan mobil kabel dan loket tiket, bukan kuil.
Pemerintah Cina memperketat pengawasan pada tempat-tempat ibadah umat Budha, Kristen dan Muslim di wilayah negara tersebut. Namun, hal ini tidak menghentikan kebangkitan agama setelah berpuluh tahun berada dalam ideologi komunis. Pada saat yang sama, para pebisnis memutuskan untuk memanfaatkan minat masyarakat terhadap agama dengan memulai komersialisasi berskala besar pada kuil.
Adiministrasi Negara untuk Urusan Agama di Cina mengatakan bahwa beberapa pemerintah lokal, perusahaan dan individu membangun kuil hanya untuk menghasilkan uang. Mereka menyewa biksu-biksu palsu dan menarik para pengunjung untuk mendapatkan uang. Lainnya mulai memberikan harga yang tinggi dibalik biara, gereja dan mesjid antik.
Banyak orang di Cina mengeluhkan tingginya harga barang dan jasa di tempat-tempat ibadah. Di beebrapa kuil Beijing, harga dupa kuil mencapai 300 yuan ($50) sebatang.