Ketegangan Geopolitik Negara-negara Teluk AKan Menaikkan harga Minyak

Dinamika harga minyak mentah menunjukkan beberapa tanda kenaikan pasar minyak global ditengah-tengah meningkatnya ketegangan diplomatik antara Arab Saudi dan Iran. Pada hari trading pertama 2016, kontrak berjangka minyak naik hingga 3% terkait persellisihan diplomatik antara Kerajaan Timur Tengah dan Iran.

Krisis Arab Saudi-Iran dipicu oleh eksekusi 47 tahanan di Arab Saudi yang dituduh melakukan penyerangan teroris. Diantara terdakwa adalah Sheikh Nimr Baqr al-Nimr, seorang ulama dan pimpinan minoritas Syiah di Arab Saudi. Sheikh Nimr merupakan pendukung unjuk rasa massal anti pemerintah yang terjadi Provinsi bagian timur Arab Saudi di 2011, yang menjadi alasan penahanannya. Hukuman mati untuk Nimr memicu unjuk rasa dari muslim Syiah di seluruh dunia.

Di Iran, unjuk rasa berakhir dengan penyerangan terhadap kedutaan besar Arab Saudi. Selain itu, para pengunjuk rasa juga membakar gedung konsulat Arah Saudi. Arab Saudi merespon hal tersebut dengan pengumuman pemutusan hubungan diplomatik dengan Iran. Keputusan ini didukung oleh Bahrain, salah satu sekutu utama Arab Saudi. Para ahli negara-negara Teluk menilai sistuasi ini akan menjadi krisis terburuk antara dua negara, dimana keduanya secara de facto terlibat dalam konflik bersenjata satu sama lain dalam kebuntuan rezim politik di Suriah dan Yaman.

Secara keseluruhan, konflik apapun di Timur Tengah melibatkan produsen minyak global sehingga mendorong harga minyak naik. Risiko geopolitik pada akhirnya meningkatkan harga minyak mentah global. Sehingga pasar minyak memulai tahun baru dengan catatan positif, meski kenaikan harga akan berhenti nantinya.