AS akan Menjadi Pemimpin Konsumsi Minyak dan Gas

AS mungkin akan menjadi produsen minyak terbesar di dunia jauh di atas Arab Saudi pada tahun 2017, Lembaga Energi Internasional (IEA) melaporkan.

Berdasarkan Reuters, kepala IEA ekonom Faith Birol mempercayai bahwa pada tahun 2015 AS akan mengambil alih Rusia sebagai produsen gas terbesar. Sebelumnya, Kementrian Keuangan Rusia mengumumkan bahwa mulai tahun 2016 Gazprom (ekstraktor terbesar gas alam) dapat menghadapi beberapa kesulitan pada penjualan gas di Eropa karena AS akan mendapatkan kesempatan untuk secara aktif mengekspor bahan bakar dalam kurun waktu tersebut. Seperti yang dikatakan BP, Rusia kehilangan kepemimpinannya pada pasar gas dunia pada tahun 2009.

Berdasarkan beberapa analis, pada tahun 2035 AS akan dapat berdiri sendiri dalam bidang energi yang berarti menambah ekstraksi minyak, serpih gas, sama seperti perkembangan pada lahan energi alternatif. Jurnal Wall Street melaporkan bahwa manufaktur domestik bahan mentah AS akan naik ke 6.5 milyar barrel per hari disebabkan oleh ekstraksi serpih minyak. Disamping itu, perrmintaan untuk sumber daya energi diharapkan akan turun dengan bantuan teknologi penyimpanan daya. Saat ini As mengimpor sekitar 20% dari energi yang dibutuhkan. Khususnya, negara mengkonsumsi 18.7 juta barrel minyak per hari.

Perkiraan Departemen Energi sesuai dengan data lembaga. Seperti yang diharapkan, tahun ini ekstraksi hidrokarbon likuida (minyak mentah, biofuel, kondensat) akan naik di As sebesar 7% hingga 10.9 juta barrel per hari, merupakan laju kenaikan tercepat sejak 1951. Kedepannya ekstraksi hidrokarbon likuida akan mempunyai total 11.4 juta barrel per hari di AS sementara produsen minyak terbesar dunia, Arab Saudi, akan mencapai level 11.6 juta barrel per hari. Di Rusia indikator diperkirakan akan mencapai 10.4 juta barrel per hari.

Citibank mengharapkan bahwa perkembangan minyak di AS akan mencapai 13-14 barrel per hari pada tahun 2020.

AS mennempati posisi pertama pada produksi minyak pada tahun 2001 ketika ekstraksi minyak Arab Saudi turun disebabkan oleh serangan teroris yang terjadi pada tanggal 11 September 2001. Kemudian, posisi teratas juga ditempati oleh Rusia atau Arab Saudi.