Moniz juga menambahkan bahwa otoritas AS tidak memiliki alat sah ataupun keinginan untuk mempertimbangkan mengakhiri produksi bersama dengan para anggota OPEC.
Pada 24 Februari, ide untuk menghentikan produksi minyak untuk beberapa waktu dikritik tajam oleh Departemen Luar Negeri AS. Utusan khusus Departemen Luar Negari AS dan Koordinator untuk Badan Energi Internasional Amos Hochstein mengatakan bahwa pasar akan stabil tanpa adanya intervensi.
Pada 23 Februari, Menteri Minyak Arab Saudi Ali al-Naimi mengatakan bahwa rencana penghentian tidak berarti pengurangan produksi. Dihari yang sama, Iran juga membuat beberapa pengumuman kontroversial dan tidak setuju untuk mengendalikan produksi minyak. Ditengah situasi ini , harga minyak turun lebih dari 6% menjadi 32 dolar AS perbarel.
Pada 16 Februari, Rusia dan beberapa anggota OPEC, termasuk Arab Saudi, Qatar, dan Venezuela setuju untuk menghentikan produksi minyak untuk mendukung harga minyak. Sejak pertengahan 2014, harga minyak turun sebesar 70%. Iraq dan Kuwait juga mendukung ide ini. Pada 20 Februari, Nigeria mengumumkan kesiapannya untuk mempertahankan produksi minyak di level Januari.