Kontroversi yang tiada berakhir mengenai efek sesungguhnya dari sanksi ekonomi dan finansial telah membagi para pundit dan komentator media menjadi dua kubu. Beberapa ahli menganggap larangan dan pembatasan adalah alat yang kuat dalam kebijakan luar negeri sementara yang lain menyatakan peringatan keras terhadap Amerika yang terlalu mengandalkan sanksi pemerintahnya. Selama dekade yang lalu, sanksi ekonomi telah menjadi solusi "peluru perak" dalam kebijakan luar negeri AS, yang lebih murah dan lebih efektif dalam menangani lawan-lawan AS dibandingkan dengan kekuatan militer tradisional. Meskipun demikian, penyalahgunaan sanksi telah didiskusikan secara luas di media akhir-akhir ini sementara resiko penggunaan larangan ekonomi yang berlebihan dapat meniadakan efeknya dan bahkan melemahkan Amerika.
Menteri Keuangan AS Jacob J. Lew, meskipun merupakan seorang pendukung keras sanksi, telah memperingatkan pemerintah mengenai kemungkinan akibat buruk darinya. Kita tak dapat menyangkal fakta bahwa larangan AS sejauh ini memang menghasilkan efek tertentu karena bursa keuangan AS adalah sistem saraf utama ekonomi dunia. Namun, menggunakan terlalu banyak sanksi tampaknya akan membuat sistem AS terlalu rumit dan tidak efisien bagi orang asing, jadi mereka akhirnya akan mencari cara berbisnis di luar pasar AS. Lebih jauh, isu serius lainnya harus ditangani, menurut Lew, adalah penerapan sanksi yang non-sistematis, dan juga diikuti oleh kesadaran bahwa jika tindakan yang sekarang tidak berhasil, terdapat lebih banyak pembatasan yang diterapkan.
Sanksi Barat sejauh ini gagal membuat Rusia mengembalikan Krimea ke Ukraina atau memenuhi kewajibannya dalam perjanjian Minsk. Sang pejabat percaya bahwa kesabaran adalah kunci dalam kasus ini, dan bukannya terus menebar ancaman untuk memperketat sanksi. Bahkan pengobatan paling efektif kehilangan efisiensinya ketika terlalu sering digunakan. Hal yang sama juga berlaku pada sanksi.