Paris telah mengutarakan keraguannya secara terbuka terhadap perjanjian kontroversial, Transatlantic Trade and Investment Partnership (TTIP) diantara Uni Eropa dan Amerika Serikat. Sementara Jerman, contohnya, tampaknya percaya pada keuntungan pakta tersebut yang sebagian besar sesuai dengan niat negara tersebut untuk berekspansi ke pasar ekspor baru, Prancis menentang keras pakta perdagangan UE-AS, dan menolak untuk menandatangani perjanjian transatlantik tersebut sekarang. Mengutip alasan dibalik penolakan terhadap kesepakatan TTIP, Presiden Prancis Francois Hollande berbicara mengenai kurangnya mutualitas dan transparansi, dan mengatakan, atas nama negara Prancis, "Kami takkan pernah menyetujui pertanyaan mengenai prinsip penting terkait pertanian, kebudayaan dan akses resiprokatif terhadap pasar (beli) publik."
Menteri Perdagangan Luar Negeri Prancis Matthias Fekl mendukung pemimpin negara tersebut, dan mengatakan pembatalan negosiasi tampaknya akan menjadi skenario yang paling mungkin terjadi. Lebih jauh, Fekl menyalahkan Washington atas situasi buntu ini, dan mengingatkan pada para politisi AS bahwa Eropa-lah yang setuju untuk sejumlah konsesi demi tercapainya kesepakatan, sementara Gedung Putih, tidak mengambil satu langkahpun kedepan. Di saat bersamaan, para ahli berdebat apakah Uni Eropa akan memperoleh keuntungan lebih besar dari TTIP dibandingkan AS. Potensi stimulus ekonomi dari TTIP hanya akan berjumlah sebesar 90 miliar euro untuk AS per tahun, sementara ekonomi Eropa akan memperoleh sekitar 120 miliar euro. Namun, angka-angka tersebut sejauh ini gagal meyakinkan Prancis, dan kesepakatan tersebut tidak memiliki masa depan tanpa izin negara.
Faktanya, Paris tak pernah berniat mencari masalah dengan London atau Washington, karena Prancis hanya berusaha untuk memberikan solusi yang adil untuk seluruh pihak yang terlibat. Dalam satu-satunya respon resmi kepada Senat AS, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Marc Ayrault mengilustrasikan pendapatnya dengan contoh "perjanjian yang baik", merujuk pada pakta yang sudah ada antara Eropa dan Kanada (The Comprehensive Economic and Trade Agreement, CETA). Pakta tersebut mengimplikasikan perdagangan dengan syarat-syarat yang saling menguntungkan, dimana kepentingan masing-masing pihak terjaga baik dan keberadaan pembagian hasil yang menguntungkan dijamin. AS dan UE sama sekali tidak berada dalam kesepakatan dalam level setinggi itu, menurut sang pejabat.