Meski terdapat penurunan terkini dalam harga minyak, beberapa analis mencatat bahwa telah terdapat tanda keseimbangan pasar yang lebih baik. Argumen utama untuk peningkatan ini adalah permintaan yang lebih kuat untuk minyak mentah di Tiongkok yang merupakan konsumen energi global terbesar kedua. Jason Gammel, seorang analis energi di bank investasi global asal Amerika Serikat, Jefferies menyatakan bahwa pasar minyak telah memasuki tahap transisi dari cadangan berlebih hingga penurunan pasokan. Ia mengacu pada peristiwa terkini dan statistik untuk bulan April. Tentunya, cadangan minyak global telah mengalami gangguan signifikan dalam beberapa pekan akibat kebakaran hutang di Kanada dan sabotase di Nigeria, Libya dan Venezuela. "Saya pikir, dengan pertumbuhan permintaan sepanjang tahun ini dan penurunan yang terus terjadi dalam pasokan non-OPEC yang telah kita lihat seperti Amerika Serikat, pasar minyak telah membaik di akhir triwulan ketiga dan itu merupakan tahap untuk pemulihan harga yang pokok," Gammel menyatakan keyakinannya. Selain itu, Permintaan minyak di Tiongkok meningkat di bulan April . Impor minyak mentah Tiongkok meningkat sebesar 8 juta bpd, 7,6% naik dari bulan yang sama satu tahun lalu. Para ahli juga menyadari bahwa dolar AS menguat ditengah ekspektasi kenaikan dana dalam waktu singkat. Mata uang AS yang menguat tentunya memberikan tekanan pada komoditas karena penetapan harga dalam dolar AS.