Pekan ini pasar minyak Tiongkok menunjukkan performa gabungan, hal ini memicu pertanyaan apakah ekonomi Tiongkok akan berkontribusi pada pemulihan harga minyak atau tidak.
Sementara itu, analis masih bearish pada Tiongkok.
Menurut laporan terbaru dari International Energy Agency (IEA), permintaan minyak Tiongkok meningkat 1,4 juta barel per hari di kuartal pertama 2016, sementara itu dikuartal kedua permintaan minyak naik sedikit sebesar 0,9 juta barel per hari.
Hal ini terutama dikarenakan oleh permintaan yang lemah di Tiongkok dan Arab Saudi. Permintaan Tiongkok khususnya untuk bahan bakar bensin, diesel, bitumen dan minyak mentah dibawah ekspektasi.
Menurut S&P Global Platts, Permintaan minyak Tiongkok turun 7,2% sebesar 10,88 juta barel per hari di bulan Mei. Sementara itu, impor Tiongkok turun 41% dari bulan yang sama tahun lalu.
Di waktu yang sama, Tiongkok memproses minyak dengan catatan 11 juta barel per hari di bulan Juni, naik 3,2% dari Juni 2015. Namun, mengingat bahwa permintaan domestik dibawah angka tersebut, Tiongkok harus meningkatkan ekspor bahan bakar olahan sebesar 38% pada basis tahunan.
Di tahun 2016 produksi minyak Tiongkok turun 4,6%, merupakan level terendah sejak 2012.
Saat ini, perusahaan minyak milik negara harus mengurangi pengeluaran. Di awal tahun, bahkan Petro China menutup beberapa deposit yang tidak menguntungkan.
Sementara itu, cadangan strategis minyak negara hampir terpenuhi di akhir Juli. Itu artinya Tiongkok tidak perlu mengimpor lebih banyak minyak, oleh karena itu total impor dapat turun 15%.
Sebelumnya, Tiongkok berperan penting dalam keseimbangan pasar minyak. Namun pada ahli mengatakan tekanan harga Tiongkok secara dramatis dapat meningkat pada paruh kedua dalam satu tahun.