Di 2012, Thailand kehilangan tempat pertamanya sebagai eksportir beras nomor satu dunia digantikan oleh India dan Vietnam, Agence France-Presse melaporkan dengan mengacu pada Asosiasi Eksportir Beras Thailand. Di 2012, Thailand mengekspor 6,9 juta ton beras sedangkan India mengekspor 9,5 juta ton dan Vietnam sebesar 7,8 juta ton.
Thailand telah menjadi pemasok beras terkemuka sejak 1980, namun di 2012, ekspor beras turun 35% ditengah--tengah program pembelian padi pemerintah.
Lebih dari setahun lalu, pemerintah Thailand yang dipimpin oleh Yingluck Shinawatra memutuskan untuk membeli beras dari para petani dengan harga 50% lebih besar dari harga pasar. Kebijakan ini memang menguntungkan petani, namun di lain pihak, hal tersebut membuat ekspor Thailand tidak kompetitif.
Saat ini, satu ton beras Thailand berharga $130-150 lebih mahal dari harga yang ditawarkan pesaing utama Thailand. Oleh karena itu, banyak eksportir yang terpaksa menghentikan bisnis mereka. Biasanya Thailand dapat memproduksi sekitar 20 juta ton beras per tahun; setengah dari jumlah ini dikirimkan ke luar negeri. Dengan program pembelian padi pemerintah, stok beras setara dengan 12-13 juta ton dan seharusnya naik menjadi 20 juta ton di triwulan ketiga 2013.
Pemerintah yang dipimpin oleh Yingluck Shinawatra yakin Thailand akan menemukan pembeli beras pada pasar global dengan harga yang dapat mendorong pendapatan para petani. Bangkok selama ini berhasil menjual sejumlah beras langsung ke beberapa negara.