Sama seperti yang terjadi pada kurs Peso, nilai kurs Yuan juga terjun bebas setelah terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat pada 8 November lalu. Kedua kurs tersebut terkena imbasnya akibat ketidakpastian hubungan perdagangan lebih lanjut antara AS denga negara-negara tersebut.
Ketidakpastian ini dipicu oleh pernyataan sang Presiden terpilih. Di antara janji-janjinya saat masa kampanye, Donald Trump berkeinginan untul melakukan reboot pada perjanjian perdagangan yang saat ini berlaku dan juga pada kebijakan perdagangan AS secara keseluruhan. Saat masa kampanye, Trump yang saat itu masih seorang calon presiden dari partai demokrat sering mengkritisi bahwa Tiongkok "memanipulasi" kurs mereka sendiri. Ia juga memperingatkan pemerintah Tiongkok bahwa ia akan menaikkan tarif impor dari Tiongkok sebesar 45%. Para ahli dari bank asal Australia Commonwealth Bank memperkirakan bahwa stok barang buatan China yang diimpor ke AS dapat menyusut hingga 25% dalam satu tahun sejak terpilihnya Presiden Trump. Komentar tersebut berhasil menjatuhkan kurs Tiongkok ke level terendah sejak September 2010. Semanjak itu, Yuan jatuh ke poin 6,79 terhadap dolar AS. Nilai kurs Tiongkok telah menurun lebih dari 4% pada tahun ini. Walaupun begitu, renminbi bukanlah "pemain terburuk" dibandingkan mata uang dunia lainnya pada tahun 2016.
Trump menegaskan bahwa pemerintah Tiongkok harus bertanggungjawab atas devaluasi yang "sengaja" mereka lakukan pada kurs yuan. Dengan begitu, pemerintah Cina memutuskan untuk meningkatkan kompetisi serta menurunkan harga ekspor barang ke AS. Saat ini pelaku pasar akan tetap menutup mata mengenai apakah kebijakan AS yang sebenarnya bersama Trump sesuai dengan retorikanya.