Agensi rating Internasional, Moody's Investors Service mengatakan bahwa rating sovereign global untuk 12-18 bulan mendatang tetap negatif. Outlook negatif dari agensi tersebut secara umum disebabkan oleh angka pertumbuhan ekonomi yang terus rendah, masalah fiskal, dan meningkatnya risiko politik serta geopolitik.
Selain itu, taksiran umum dari situasi tersebut berdasarkan rating dari negara bagian yang terpisah-pisah. Sehingga, sebagai contoh, 26% dari 134 rating sovereign adalah negatif, dibandingkan dengan 17% di tahun lalu. Ini adalah bagian terbesar sejak krisis utang zona euro di tahun 2012.
Jumlah negara dengan outlook stabil turun ke 65% dari 75% di tahun lalu. Saham negara-negara bagian dengan outlook positif naik ke 9% dari 8% di tahun lalu.
Analis Moody's mengatakan bahwa sebuah pergeseran terhadap stimulus fiskal, seperti pembelanjaan publik yang lebih tinggi didanai oleh biaya modal yang rendah, dapat mendukung pertumbuhan ekonomi hanya dalam jangka waktu dekat. Sebagai dampak untuk jangka panjang, maka penting untuk memastikan bahwa langkah-langkah ini akan memberikan produktifitas tenaga kerja yang lebih tinggi.
Namun demikian, situasi tersebut di diperparah dengan fakta bahwa banyak negara memperlihatkan kepayahan politik dan nampak seperti mengenyampingkan seluruh pencapaian baru-baru ini, termasuk perjanjian dagang internasional.
Sebagai contoh, menurut Moody's, Eropa dipengaruhi oleh kurangnya persatuan serta risiko yang berkaitan dengan kemungkinan keruntuhan Uni Eropa setelah Brexit.