Soros mengatakan ekonomi Rusia menurun

Menurut Forbes, para investor sebaiknya menahan diri untuk berinvestasi ke ekonomi Rusia. "Ekonomi negara tersebut tengah menurun dan dibawa ke arah yang salah oleh Putin," multijutawan George Soros mengatakan di Forum Ekonomi Dunia di Davos. Ia tidak menyebutkan alasan mengapa ia membuat kesimpulan tersebut.
George Soros sebelumnya telah mengkritik otoritas Rusia. Dalam wawancara terbarunya dengan Rektor New Economic School Sergei Guriev di November 2012, multijutawan tersebut berpendapat bahwa penindasan terhadap masyarakat sipil telah menguat di Federasi Rusia.
Sementara itu, investor miliarder mengatakan ia tidak akan menghentikan penggalangan dana untuk amal di Rusia. Ia tidak menjelaskan rencana investasinya Rusia. Menurut massa media, hal tersebut terkait dengan struktur Soros yang ambil bagian dalam proses privatisasi Sberbank Rusia di akhir September 2012.
Di awal tahun 2000, Soros mengkritik otoritas Rusia terkait penahanan Mikhail Khodorkovsky. Dalam sebuah wawancara dengan Die Presse di tahun 2005, investor miliarder tersebut mengatakan Rusia seharusnya meninggalkan Kelompok 8 (G8), karena tidak ada lagi demokrasi dalam kelompok tersebut.
Sebelumnya, analis dari Goldman Sachs menyarankan para investor untuk tidak berinvestasi di ekonomi Rusia. Di awal Desember 2012, bank tersebut telah memindahkan saham dari pasar saham Rusia dari daftar puncak GEM (Global Emerging Markets). Institusi keuangan tersebut tidak merekomendasikan saham Rusia sebagai investasi yang menarik karena ketidakpastian dalam perkembangan beberapa area, kepala ekonom Goldman Sachs mengatakan di Rusia dan CIS Clemens Graf. Perkembangan ekonomi Rusia menjadi salah satu topik kunci yang didikusikan di Davos. Pada 25 Januari, para ekonom menyampaikan tiga skenario negatif untuk perkembangan Rusia; setelah itu, Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev mencoba untuk meyakinkan para investor bahwa kondisi Rusia mendukung pertumbuhan ekonomi.
George Soros adalah seorang pemodal dan dermawan. Ia merupakan pendiri Open Society Institute, OSI. Investor miliarder tersebut dikenal sebagai "Orang yang Membobol Bank of England" setelah ia menghasilkan £1,1 miliar saat krisis mata uang Inggris Black Wednesday 1992. Ia dengan tepat berspekulasi bahwa pemerintah Inggris pada saat itu harus mendevaluasi mata uang nasional Inggris tersebut.