George Soros, salah satu investor terbesar pada pasar mata uang telah membayarkan sekitar $1 milyar taruhan melawan yen Jepang sejak bulan November 2012, The Wall Street Journal mengatakan, mengutip sumber anonim di antara para trader. Berdasarkan Wall Street Journal, terdapat juga beberapa dana lindung nilai lainnya yang menjadikan uang dari trading yen yang bearish, awalnya David Einhorn dari Greenlight Capital, Daniel Loeb dari Third Point, dsb.
Pemerintah Jepang mempertimbangkan yen kuat menjadi salah satu alasan utama resesi di negara tersebut. Investor dari seluruh dunia membelanjakan yen karena ini merupakan aset haven yang lebih aman dibandingkan mayoritas mata uang lainnya. Hal ini merugikan eksportir Jepang karena mengikis nilai dari dolar luar negeri dan pembayaran euro ketika direpatriasi menjadi yen.
Pada akhir 2012 perdana meneteri baru menjabat di Jepang, pimpinan Partai Demokratis Liberal Jepang (LDP) Shinzo Abe. Dia secara langsung mengumumkan depresiase yen adalah salah satu tujuan utamanya. Sebagai hasilnya, yen turun sekitar 20 persen melawan dolar AS sejak November hingga awal Februari.
Pertajaman depresiasi yen dikritik oleh beberapa negara, termasuk Jerman dan Perancis. Mereka menyalahkan Jepang karena memulai apa yang disebut dengan perang mata uang. Lawan mengekspresikan perhatian mengenai potensi devaluasi mata uang negara-negara lain dengan tujuan untuk membantu eksportir nasional mereka, menyusul contoh dari Jepang.
George Soros telah menyelesaikan salah satu transaksi terkemukanya dengan mata uang. Pada awal 1990 dia mengumpulkan banyak aset pound Inggris, kemudian ia menjualnya dalam jangka waktu yang singkat. Mata uang mengalami penurunan nilai dan Soros mulai membeli pound kembali, hingga pembayaran sekitar $1 milyar pound pada seri trading.