Masa Zona Euro Mendekati Kritis

Menyusul Estonia, Lithuania dan Latvia juga bersemangat untuk bergabung dengan Uni Eropa atau memasuki zona Euro. Pemerintah Latvia telah memberikan penawaran Zona Euro dan Lithuania menyetujui adopsi euro.
Cukup menarik, dua negara Baltic sepertinya tidak takut terhadap fakta bahwa perekonomian Zona Euro saat ini berada dalam situasi yang rapuh. Selain itu, pemerintah kedua negara tersebut mengabaikan keprihatinan warga mereka tentang implikasi pembesaran Uni Eropa. Namun, walaupun sekitar 40% warga negara Estonia dibuat kesal oleh masuknya Estonia ke dalam krisis Zona Euro, kokohnya perekonomian negara ii telah menunjukan pertumbuhan yang tangguh. Estonia memiliki salah satu beban pinjaman termudah di Uni Eropa. Yang lebih lagi, negara ini merupakan satu-satunya anggota Uni Eropa yang akan meningkatkan surplus anggaran. Jadi, negara-negara tetangganya, Latvia dan Lithuania, tak sabar untuk mengikuti langkah yang sangat menggiurkan tersebut. Misalnya, Latvia berencana untuk menarik lebih banyak investasi dari Eropa setelah bergabung dengan Zona Euro. Sementara itu, sebanyak 63% warga negara tersebut menentang mata uang tunggal di negara mereka. Kasus Estonia benar-benar membuat warga Latvian dan Lithuania bingung. Mereka takut akan terjadi kenaikan harga dan hilangnya kebebasan dalam kebijakan moneter.
Pada waktu yang bersamaan, ambisi Latvia dan Lithuaniatelah memicu reaksi beragam di Eropa. Para ahli Zona Euro tidak yakin mengenai keanggotaan Latvia di Zona Euro, karena indikator makroekonomi negara tersebut tidak cukup memenuhi kriteria Zona Euro. Komisioner Hubungan Moneter Uni Eropa, Olli Rehn, berjanji akan menilai kemampuan Latvia “untuk menghadapi tantangan faktor-faktor jangka panjang” dan memutuskan bahwa negara sudah cukup siap untuk memasuki Uni Eropa pada akhir bulan Juni.
Yang terakhir, kondisi di zona euro saat ini sangat merugikan terhadap pembesaran. Karena proyek Komisis Eropa pada tahun 2013 blok mata uang kemungkinan akan menghadapi kenaikan pengangguran menjadi 12% atau lebih tinggi lagi dan penurunan ekonomi 0.3%.