Jepang menemukan logam bumi langka di laut

Para penjelajah Jepang telah menemukan simpanan mineral bumi langka di bawah dasar laut dalam jumlah besar, The Daily Telegraph melaporkan. Jumlah dan nilai penemuan tersebut belum terungkap. Yasuhiro Kato, profesor dari Universitas Tokyo dan kepala tim penelitian, menjelaskan bahwa simpanan tersebut hanya berada 2 hingga 4 meter dari permukaan dasar laut. Ia menambahkan bahwa konsentrasi dari logam langka tersebut lebih tinggi "dari perkiraan siapa pun yang pernah ada." Namun, masih belum diketahui kapan produksi potensial logam bumi ini tersedia.
Di pertengahan Maret, Lockheed Martin, sebuah kantor AS di Inggris, juga menyatakan rencananya untuk mengekstraksi logam bumi tersebut dari laut. Perusahaan yang berada di bawah pengawasan London ini mendapatkan izin untuk mengembangkan 22.000 meter persegi dasar laut Pasifik antara Meksiko dan Hawaii.
Jepang mengalami kekurangan logam bumi dan sangat bergantung pada impor dari Cina. Tokyo dilaporkan akan membeli logam langka tersebut dari Kazakhstan sejak 2013. Namun, volume impor hanya akan mencakup 7,5% dari kebutuhan keseluruhan negara tersebut.
Saat ini, Cina memiliki monopoli total di dunia dengan ekstraksi sekitar 97% logam bumi langka di dunia. Para produsen elektronik seperti AS dan Jepang merupakan konsumen terbesar material ini.
Cina secara berkala membatasi ekspor logam langka dengan bantuan dari pajak kuota untuk melawan penyelundupan dan pelanggaran lingkungan, menurut pemerintah Cina. Jepang dan Amerika Serikat menuduh Cina memaksa perusahaan-perusahaan asing untuk membangun pabriknya di Cina. Di 2012, dengan adanya kuota yang dikenakan, Jepang, AS dan UE mengajukan keluhan terhadap Cina ke WTO.
Logam bumi langka memiliki 17 elemen seperti niobium dan terbium. Kedua elemen ini digunakan secara luas di bidang elektronik, baterai telepon seluler, selama proses penyulingan minyak serta di bidang lainnya.