Investasi Menurun Karena Kinerja Yang Juga Menurun

Para investor mengambil pandangan suram akan kesuksesan mengalokasikan dana ke negara-negara BRIC (kelompok lima negara dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat - Brazil, Rusia, India, Cina dan Republik Afrika Selatan). Segera setelah Sistem Federal Reserve AS mulai mengancam akan memotong insentif, kelas aset BRIC mencatatkan arus keluar modal. Selama periode 2005 hingga 2012, investasi berjumlah sekitar $52 miliar. Namun, sejak peralihan tahun ini arus modal keluar yang ditarik dari cadangan devisa BRIC telah mencapai hampir $14 miliar, sekitar 27% dari total modal yang masuk ke negara-negara BRIC selama 7 tahun. Indeks saham negara-negara ini turun 12%, obligasi pemerintah turun 0,6%, nilai mata uang rata-rata turun 4,1%. Selain itu, tiap negara BRIC juga mengalami masa-masa sulit, sehingga ekonomi yang tidak stabil membuat para investor takut untuk berinvestasi. Contohnya, masalah utama di Rusia adalah menurunnya harga minyak. Brazil menghadapi pertumbuhan inflasi yang cepat. Di India, rupee mencapai rekor terendah terhadap dolar AS (1 hingga 60). Mulai di tahun ini, Cina menunjukkan pertumbuhan ekonomi terlemah sejak 1990; data ekspor yang dilaporkan juga mengindikasikan adanya beberapa masalah khusus di pasar. Hilangnya minat berinvestasi kemungkinan disebabkan oleh harapan panjang untuk meraih hasil positif yang sayangnya belum tercapai hingga saat ini. "Setiap dekade, terdapat tema yang memenuhi imajinasi investor - 1970an mengenai emas, 1980an adalah tentang Jepang dan 1990an seputar perusahaan teknologi," Ruchir Sharma, Kepala Ekuitas Pasar Berkembang dan Global Macro di Morgan Stanley Investment Management, menjelaskan situasinya. "Dekade terakhir adalah mengenai BRIC. Namun, tema ini pada dasarnya telah kehilangan kepopulerannya."